LANGIT7.ID-Jakarta; “Bu Guru, kalau doa sambil makan, boleh nggak?”
“Nggak boleh. Kurang etis soalnya.”
“Kalau makan sambil doa, boleh kan?”
Bu Guru pun bingung ngejawabnya. Hehehe.
Kali ini kita bahas soal doa. Menurut riset, seberapa penting Tuhan dan doa dalam kehidupan?
Pew Research Center melontarkan pertanyaan ini kepada hampir 40.000 orang di 34 negara. Ternyata mereka yang berada di negara berkembang condong menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan, berdoa, dan bermoral itu sangat penting.
Belakangan ini, kita melihat ada semacam kecenderungan pada sebagian orang perkotaan untuk mempelajari agama dan beramal lebih intens lagi. Kajian perkantoran pun hadir di mana-mana. Makin banyak yang peduli soal ini.
Menariknya, kebanyakan mereka bukanlah tamatan pesantren atau sekolah agama. Tapi mereka berusaha membumikan nilai-nilai agama dalam keseharian, walaupun belum ideal.
Istilahnya ‘santri urban’. Menembus batas.
Tentunya istilah ini dalam tanda petik. Nggak cukup bicara soal halal, mereka pun mulai membahas soal berkah dan ridha Allah. Ya, mencari keberkahan pada setiap apa yang kita kerjakan setiap harinya. Setidaknya ini terjadi pada sejumlah komunitas, termasuk komunitas bisnis saya.
Misalnya, meeting jam 3 pagi dengan ribuan mitra, rutin setiap Senin sejak Juni 2020. Adanya Lomba Azan, Hafiz Cilik, dan MTQ secara internal yang diikuti ribuan mitra. Rutinnya tahajjud dan dhuha pada mayoritas distributor. Rutinnya mengikuti kajian (Zoom) dua kali sepekan. Lebih merutinkan sedekah, sampai jadi program. Dan masih banyak lagi.
Ya, inilah BP alias Bagai Pesantren. Kami pun makin bersyukur saat ulama-ulama berkenan gabung di komunitas BP, di antaranya UAS, Imam Shamsi, Ustadz Wijayanto, dan Ustadz Das’ad. Masya Allah, tak terkira betapa bahagianya kami.
Pada akhirnya, semoga Allah meridhai segala kesibukan dan perniagaan kita. Aamiin.(*/saf/IpphoSantosa/komunitas QM)
(lam)