LANGIT7.ID-Jakarta; Vinícius Júnior berlari ke pojok lapangan dan kembali menari, persis seperti yang ia lakukan di Lisbon seminggu lalu. Namun kali ini, suasana di sekelilingnya penuh dengan perayaan, sekaligus rasa lega. Dengan sisa waktu sebelas menit dalam malam yang penuh ketegangan di Santiago Bernabéu, ia lepas dari kawalan, menggiring bola sendirian, lalu menaklukkan Anatoliy Trubin.
Gol itu membawa Real Madrid melenggang ke babak 16 besar Liga Champions. Dengan keunggulan agregat 3-1 yang sudah aman di tangan, ia mulai menggoyangkan pinggulnya di depan bendera sepak pojok. Para fans yang tadinya was-was pun langsung bersorak dan bertepuk tangan untuknya.
Madrid datang dengan modal keunggulan 1-0 dari leg pertama di Lisbon, laga yang sempat tercoreng dugaan pelecehan rasisme oleh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, terhadap Vinícius. Namun di laga ini, Madrid justru kebobolan lebih dulu. Meski mereka berhasil menyamakan kedudukan dengan cepat, malam itu tetap terasa mencekam. Madrid tidak benar-benar merasa aman sampai gol Vinícius tercipta. Pada akhirnya, meski Prestianni dan José Mourinho tidak menampakkan batang hidungnya, performa impresif Benfica tetap tak cukup untuk menggulingkan tuan rumah.
Pihak Madrid sebenarnya sudah menyediakan bilik radio nomor 6 di lantai delapan Santiago Bernabéu agar Mourinho bisa menonton pertandingan. Namun, Mou memilih menolak tawaran itu. Ia lebih memilih menonton sendirian dari sudut lain di area bawah Bernabéu saat timnya unggul lebih dulu. Gol pembuka Benfica itu tercipta lewat skema yang ciamik: penguasaan bola selama satu menit, membangun serangan dari sisi kiri, sempat buntu, lalu berputar balik untuk membangun ulang serangan. Mereka terus merangsek jauh ke jantung pertahanan Madrid hingga gol itu tercipta.
Umpan diagonal Fredrik Aursnes membuka lebar lapangan, memindahkan arah permainan ke sisi lain di mana Amar Didic, bukan untuk pertama kalinya malam itu, menusuk ke dalam. Operan tajam Ricardo Rios dari sudut lapangan membuat Vangelis Pavlidis lolos ke kotak penalti. Meskipun umpan silangnya sempat dipotong oleh Raúl Asencio yang melakukan sliding, bola justru mengarah ke gawang sendiri. Thibaut Courtois berhasil menepisnya, namun Rafa Silva langsung menyambar bola muntah di garis gawang. Di tribun utara, 4.000 pendukung Benfica yang sejak awal sudah berisik, langsung meledak dalam kegembiraan.
Bukan cuma soal gol, Benfica memang memulai laga dengan sangat baik. Mereka mendominasi penguasaan bola dan terus bergerak dinamis, terutama lewat Didic. Salah satu pergerakannya berakhir dengan tendangan Andreas Schjelderup yang mengenai samping gawang, sementara Rafa Silva sempat melepaskan tendangan cungkil ala futsal yang mengancam Courtois. Meski start Benfica begitu menjanjikan, keunggulan mereka tidak bertahan lama. Hanya berselang dua menit, Madrid menyamakan kedudukan dan unggul 2-1 secara agregat.
Gol balasan ini bermula dari "hadiah" Nicolas Otamendi kepada Aurélien Tchouaméni yang langsung tancap gas ke sisi kanan. Arda Güler dan Fede Valverde bekerja sama memantulkan bola kembali ke Tchouaméni yang sudah berada di dalam kotak penalti. Ia melepaskan penyelesaian melengkung yang cantik ke pojok gawang, lalu berlari ke sudut lapangan sambil memberi gestur agar semua orang tetap tenang. Pesan yang bagus sebenarnya, tapi Madrid jarang sekali bermain stabil sampai-sampai bisa merasa benar-benar aman dari bahaya. Benar saja, sebuah umpan jauh ke ruang kosong di belakang Trent Alexander-Arnold hampir membuat mereka celaka lagi. Schjelderup berhasil lolos dan umpannya melewati sela kaki Pavlidis tepat di depan gawang. Begitu juga dengan tendangan sudut setelah Leandro Barreiro merebut bola liar, bekerja sama apik dengan Silva, dan hampir saja mencetak gol.
Di sisi lain, Madrid sempat mengira mereka sudah menambah gol saat Güler menendang bola melewati Trubin, namun VAR menganulirnya karena offside. Meskipun tidak setajam di leg pertama, Vinícius tetap menjadi tumpuan serangan. Umpan silangnya sempat disambut tendangan voli Valverde yang masih melebar, namun Benfica terus memberikan tekanan. Penyelamatan luar biasa dari Courtois menggagalkan peluang Ricardo Rios, dan sebuah serangan balik cepat Benfica harus terhenti karena pelanggaran yang dianggap dilakukan oleh Barreiro saat merebut bola dari Tchouaméni.
Permainan Madrid tampak tidak memiliki alur yang jelas, dan kondisi ini berlanjut di babak kedua. Rasa frustrasi mulai muncul, bahkan sesekali terdengar siulan ejekan dari pendukung tuan rumah yang sudah sering melihat performa naik-turun seperti ini. Tandukan Asencio melambung dan tembakan Alexander-Arnold melesat tipis di samping gawang, namun justru Schjelderup dan Silva yang tampil paling menonjol. Pergerakan Schjelderup membuahkan peluang bagi Silva yang tendangannya membentur mistar gawang dari tepi kotak penalti. Tak lama kemudian, Tchouameni kehilangan bola dari Aursnes, dan tembakan Pavlidis yang terbentur, setelah menerima umpan Silva, menyamping tipis dari tiang gawang. Itu adalah percobaan kesepuluh Benfica malam itu, dan sama sekali tidak membantu meredakan ketegangan di stadion.
Ketegangan berubah menjadi kekhawatiran saat Eduardo Camavinga dan Asencio bertabrakan ketika berebut bola udara dengan Silva. Akibatnya, Asencio harus ditandu keluar lapangan dengan penyangga leher. Waktu terus berjalan, Madrid masih unggul tapi bermain tanpa keyakinan yang kuat. Sampai akhirnya, momen itu tiba. Tomas Araujo salah mengantisipasi bola liar, ia meninggalkan posisinya di lini belakang dan gagal mengontrol bola di lingkaran tengah. Valverde menyambar bola dengan cepat dan melepaskan umpan kepada Vinícius yang langsung melesat kencang untuk tarian terakhir malam itu.
