Langit7, Jakarta - Belum banyak orang tahu bahwa budi daya ikan sidat memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Selain memiliki harga yang cukup tinggi, permintaan jenis ikan yang mirip belut ini juga terus meningkat, baik di tingkat nasional atau pun ekspor.
Ikan sidat sendiri memiliki masa pertumbuhan lama, yakni memakan waktu 14 bulan mulai dari bibit hingga bisa dipanen untuk kebutuhan konsumsi. Selain itu, selama ini pemenuhan kebutuhan pasar akan ikan sidat masih mengandalkan hasil tangkapan alam.
Di sisi lain, belum banyak orang yang mulai untuk terjun membudi dayakan ikan sidat ini. Sehingga mulai membudi dayakannya sejak dini menjadikan peluang besar bagi pebudi daya untuk mendapatkan keuntungan berlimpah di kemudian hari.
Baca juga: Rianora Moslem Wear, Dorong Muslimah Berhijab Lewat Produk PremiumSeperti yang dilakukan PT Laju Banyu Semesta (Sidat Labas Farm) di Ciampea, Bogor, yang sukses membudi dayakan ikan sidat ketika orang lain seringkali menemui kegagalan karena mendapati tantangan tersendiri dalam membudi dayakannya.
![Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat]()
Direktur Utama PT Laju Banyu Semesta, Deni Firmansyah membantah informasi yang beredar di masyarakat bahwa membudi dayakan ikan sidat terbilang sulit. Namun, jika dibandingkan dengan ikan konsumsi lain seperti nila, lele, dan gurami memang memiliki perbedaan.
“Ikan sidat ini benihnya diambil dari muara, sehingga ketika dipelihara kita harus mengondisikan airnya seperti di muara, itu saja kuncinya,” jelasnya dikanall Youtube Agromaritim.
Sementara untuk pakan, lanjut Deni, juga perlu disesuaikan dengan jenis pakan yang ada di muara, seperti artemia. Ia menyebutkan, kerentanan ikan sidat ini biasanya disebabkan oleh kualitas air yang berbeda antara di kolam budi daya dengan yang ada di muara.
“Kalau orang perikanan menyebutnya getas. Jadi memang ketika budi daya kita perlu menyesuaikan kadar pH, amoniak, dan suhu airnya,” ujarnya.
Baca juga: Tren Pendanaan Startup Meningkat, Menkominfo Berharap Indonesia Tambah Satu Decacorn
Untuk itu, Sidat Labas sendiri menggunakan sistem resirkulasi untuk kolam pembesaran benih. Hal itu dilakukan guna menjaga proses adaptasi ikan lebih baik, karena proses pergantian air yang dilakukan hanya sedikit.
Menurutnya, dengan resirkulasi tersebut akan menjaga fluktuasi air menjadi lebih baik. Ia menegaskan, hal itu merupakan hal terpenting yang sebenarnya perlu dilakukan.
“Itu saja kuncinya, tidak ada yang lain. Kalau di ikan lain kan air mengalir terus-menerus pun tidak terpengaruh karena sudah terbiasa. Namun, itu tidak berlaku untuk ikan sidat,” jelasnya.
Ia mengatakan, melakukan hal tersebut tidak lah terbilang sulit. Hanya saja memang membutuhkan pengetahuan dalam membudi dayakannya yang tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Mungkin yang bilang budi daya sidat ini sulit karena untuk mengurangi persaingan. Jadi sampai saat ini masyarakat masih takut untuk memulai,” ungkapnya.
![Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat]()
Di samping itu, Sidat Labas ini melakukan penyortiran benihnya setiap 20 hari sekali. Dari benih 0,16 gram yang dipelihara selama 20 hari, akan dilakukan grading benih sidat untuk membedakan kualitas pertumbuhan.
“Begitu juga di kolam pembesaran, tapi kami biasa melakukan penyortiran setiap sebulan sekali. Jika tidak, ukuran sidat yang berbeda-beda ini yang biasanya menjadi faktor kegagalan, karena yang kecil ini biasanya mati dan akan menjadi sumber penyakit untuk yang lain,” jelasnya.
Baca juga: Dua Startup Indonesia Rebut Penghargaan G20 Innovation League 2021Sementara untuk pemasaran, Deni berorientasi pada pasar lokal ketimbang ekspor. Walaupun permintaan ekspor meningkat, menurutnya penting untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
“Jadi kita harus sosialisasi ke masyarakat dulu soal budi daya ikan sidat ini,” katanya.
Deni mengaku menghabiskan biaya operasional untuk Sidat Labas ini hingga Rp100 juta per bulan. Untuk itu, ia menargetkan harus mendapatkan omzet lebih dari Rp100 juta tiap bulannya.
Dari produk olahan sidatnya ini, Sidat Labas mampu menjual 1-2 ton tiap bulannya dengan harga Rp500-600 ribu per kilogram. Sehingga jika dihitung, Sidat Labas mampu mendapatkan omzet antara Rp600 juta – Rp1 miliar.
“Keuntungan biasanya sekitar 20-30 persen. Artinya bisa nutup operasional kita di sini,” ujarnya.
(zul)