Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 18 Juni 2026
home wirausaha syariah detail berita

Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat

mahmuda attar hussein Rabu, 13 Oktober 2021 - 21:00 WIB
Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat
Ikan sidat. Foto: istimewa
Langit7, Jakarta - Belum banyak orang tahu bahwa budi daya ikan sidat memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Selain memiliki harga yang cukup tinggi, permintaan jenis ikan yang mirip belut ini juga terus meningkat, baik di tingkat nasional atau pun ekspor.

Ikan sidat sendiri memiliki masa pertumbuhan lama, yakni memakan waktu 14 bulan mulai dari bibit hingga bisa dipanen untuk kebutuhan konsumsi. Selain itu, selama ini pemenuhan kebutuhan pasar akan ikan sidat masih mengandalkan hasil tangkapan alam.

Di sisi lain, belum banyak orang yang mulai untuk terjun membudi dayakan ikan sidat ini. Sehingga mulai membudi dayakannya sejak dini menjadikan peluang besar bagi pebudi daya untuk mendapatkan keuntungan berlimpah di kemudian hari.

Baca juga: Rianora Moslem Wear, Dorong Muslimah Berhijab Lewat Produk Premium

Seperti yang dilakukan PT Laju Banyu Semesta (Sidat Labas Farm) di Ciampea, Bogor, yang sukses membudi dayakan ikan sidat ketika orang lain seringkali menemui kegagalan karena mendapati tantangan tersendiri dalam membudi dayakannya.
Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat
Direktur Utama PT Laju Banyu Semesta, Deni Firmansyah membantah informasi yang beredar di masyarakat bahwa membudi dayakan ikan sidat terbilang sulit. Namun, jika dibandingkan dengan ikan konsumsi lain seperti nila, lele, dan gurami memang memiliki perbedaan.

“Ikan sidat ini benihnya diambil dari muara, sehingga ketika dipelihara kita harus mengondisikan airnya seperti di muara, itu saja kuncinya,” jelasnya dikanall Youtube Agromaritim.

Sementara untuk pakan, lanjut Deni, juga perlu disesuaikan dengan jenis pakan yang ada di muara, seperti artemia. Ia menyebutkan, kerentanan ikan sidat ini biasanya disebabkan oleh kualitas air yang berbeda antara di kolam budi daya dengan yang ada di muara.

“Kalau orang perikanan menyebutnya getas. Jadi memang ketika budi daya kita perlu menyesuaikan kadar pH, amoniak, dan suhu airnya,” ujarnya.

Baca juga: Tren Pendanaan Startup Meningkat, Menkominfo Berharap Indonesia Tambah Satu Decacorn

Untuk itu, Sidat Labas sendiri menggunakan sistem resirkulasi untuk kolam pembesaran benih. Hal itu dilakukan guna menjaga proses adaptasi ikan lebih baik, karena proses pergantian air yang dilakukan hanya sedikit.

Menurutnya, dengan resirkulasi tersebut akan menjaga fluktuasi air menjadi lebih baik. Ia menegaskan, hal itu merupakan hal terpenting yang sebenarnya perlu dilakukan.

“Itu saja kuncinya, tidak ada yang lain. Kalau di ikan lain kan air mengalir terus-menerus pun tidak terpengaruh karena sudah terbiasa. Namun, itu tidak berlaku untuk ikan sidat,” jelasnya.

Ia mengatakan, melakukan hal tersebut tidak lah terbilang sulit. Hanya saja memang membutuhkan pengetahuan dalam membudi dayakannya yang tidak bisa dilakukan sembarangan.

“Mungkin yang bilang budi daya sidat ini sulit karena untuk mengurangi persaingan. Jadi sampai saat ini masyarakat masih takut untuk memulai,” ungkapnya.
Prospek Bisnis Menjanjikan dari Budi Daya Sidat
Di samping itu, Sidat Labas ini melakukan penyortiran benihnya setiap 20 hari sekali. Dari benih 0,16 gram yang dipelihara selama 20 hari, akan dilakukan grading benih sidat untuk membedakan kualitas pertumbuhan.

“Begitu juga di kolam pembesaran, tapi kami biasa melakukan penyortiran setiap sebulan sekali. Jika tidak, ukuran sidat yang berbeda-beda ini yang biasanya menjadi faktor kegagalan, karena yang kecil ini biasanya mati dan akan menjadi sumber penyakit untuk yang lain,” jelasnya.

Baca juga: Dua Startup Indonesia Rebut Penghargaan G20 Innovation League 2021

Sementara untuk pemasaran, Deni berorientasi pada pasar lokal ketimbang ekspor. Walaupun permintaan ekspor meningkat, menurutnya penting untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

“Jadi kita harus sosialisasi ke masyarakat dulu soal budi daya ikan sidat ini,” katanya.

Deni mengaku menghabiskan biaya operasional untuk Sidat Labas ini hingga Rp100 juta per bulan. Untuk itu, ia menargetkan harus mendapatkan omzet lebih dari Rp100 juta tiap bulannya.

Dari produk olahan sidatnya ini, Sidat Labas mampu menjual 1-2 ton tiap bulannya dengan harga Rp500-600 ribu per kilogram. Sehingga jika dihitung, Sidat Labas mampu mendapatkan omzet antara Rp600 juta – Rp1 miliar.

“Keuntungan biasanya sekitar 20-30 persen. Artinya bisa nutup operasional kita di sini,” ujarnya.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 18 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:50
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)