LANGIT7.ID-Menjelang kelahiran Islam, peta politik dunia didominasi oleh pergesekan dua raksasa: Romawi Timur di ufuk barat yang membentang hingga Laut Adriatik, dan Persia di timur yang berkuasa sampai ke Sungai Dijlah. Kedua imperium ini merupakan pemegang hegemoni mutlak di wilayah Timur Tengah pada masanya. Namun, di tengah kepungan dua kekuatan adidaya tersebut, Jazirah Arab tampil sebagai entitas yang unik karena sebagian besar wilayahnya bebas dari pengaruh kedua kerajaan besar itu.
Kebebasan ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan politik, melainkan hasil dari perlindungan alamiah geografi. Kecuali daerah-daerah subur seperti Yaman dan wilayah sekitar Teluk Persia yang sempat masuk dalam radar kekuasaan Persia, sebagian besar daratan Arab tetap menjadi wilayah yang tak tersentuh. Wilayah yang dikenal sebagai daerah hijau ini bersih dari intervensi politik dan budaya luar. Kondisi inilah yang memungkinkan Islam, yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Nabi Muhammad Saw. di Makkah dan Madinah, tumbuh sebagai agama yang murni, tanpa terkontaminasi oleh perkembangan agama-agama sekitar maupun kepentingan kekuasaan politik dunia saat itu.
Dalam terminologi bahasa, Jazirah berarti pulau, sehingga Jazirah Arab sering diterjemahkan sebagai Pulau Arab. Namun, jika menilik bentuknya secara saksama di atas peta, para ahli sejarah lebih cenderung menyebutnya sebagai Shibhul Jazirah atau Semenanjung. Wilayah ini berbentuk persegi panjang dengan sisi-sisi yang tidak sejajar, diapit oleh batasan alam yang tegas: Laut Merah di barat, Teluk Arab atau Teluk Persia di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Gurun Irak dan Gurun Syam di sebelah utara.
Bentang alam Jazirah Arab secara garis besar dapat dibelah menjadi dua bagian utama: bagian tengah dan bagian tepi. Bagian tengah merupakan daratan luas yang didominasi oleh pegunungan dan padang pasir yang amat jarang disinggahi hujan. Di sinilah tempat tinggal para kaum Badui yang terbiasa dengan kerasnya alam. Bagian tengah ini terbagi lagi menjadi Nejed di utara dan Al-Ahqaf di selatan. Area selatan ini begitu sepi dan jarang penduduknya sehingga mendapatkan julukan Ar-Rab'ul Khali atau tempat yang sunyi.
Berbeda drastis dengan jantungnya yang gersang, bagian tepi Jazirah Arab ibarat pita kecil yang melingkari semenanjung tersebut dengan karakteristik yang lebih ramah. Di wilayah tepi inilah hujan turun dengan cukup teratur, mengizinkan kota-kota seperti Bahrain dan Oman untuk berkembang. Ketersediaan air menjadikan wilayah ini dihuni oleh penduduk kota yang menetap, berlawanan dengan gaya hidup nomaden di bagian tengah.
Bagi para arkeolog dan ahli ilmu purba, pembagian wilayah ini sering kali dikategorikan ke dalam tiga zona besar: Arab Petrix yang meliputi daerah barat daya Lembah Syam, Arab Deserta yang merujuk pada wilayah Syam itu sendiri, serta Arab Felix yang merupakan sebutan bagi negeri Yaman. Yaman, yang dikenal sebagai Bumi Hijau, menjadi bukti bahwa di balik kegarangan Jazirah Arab, terdapat kantong-kantong kesuburan yang mampu menopang peradaban maju jauh sebelum fajar Islam menyingsing.
Pentingnya aspek geografi dalam sejarah ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Ibrahim ayat 37 yang menggambarkan kondisi Makkah:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِArtinya:
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.
Kondisi alam yang
ghoiru dzi zar'in atau tidak mempunyai tanam-tanaman ini justru menjadi benteng yang menjaga kesucian pesan yang akan turun di sana. Sebagaimana dicatat oleh A. Syalabi dalam
Sejarah dan Kebudayaan Islam, kemurnian ajaran Islam dijaga oleh tembok-tembok pasir dan gunung cadas yang tidak menarik bagi ambisi kolonialisme Romawi maupun Persia. Geografi Jazirah Arab pra-Islam bukan sekadar latar belakang tempat, melainkan aktor pasif yang memastikan bahwa ketika kebenaran itu datang, ia muncul dari tanah yang paling terjaga dari distorsi budaya asing.
Maka, memetakan Jazirah Arab bukan hanya soal mengukur luas daratan, melainkan soal memahami bagaimana Tuhan menyiapkan sebuah oase spiritual di tengah padang yang paling sunyi. Keadaan Arab sebelum adanya Islam adalah kunci untuk mengerti mengapa Muhammad dan risalahnya dapat membentuk sejarah baru bagi umat manusia dari wilayah yang sebelumnya dianggap oleh dunia luar hanyalah sebagai tempat yang sunyi.
(mif)