LANGIT7.ID-Jakarta; Menyaksikan matahari terbit dari balik pegunungan, merasakan dinginnya udara pegunungan Tengger, serta menyaksikan langsung salah satu destinasi wisata paling ikonik di Indonesia menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa internasional peserta Program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB). Melalui kegiatan outing ke Gunung Bromo pada Jumat–Sabtu (5–6/6/2026), para mahasiswa KNB menutup rangkaian pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang telah mereka jalani selama hampir sepuluh bulan.
Kegiatan yang diikuti lima mahasiswa penerima beasiswa KNB tersebut didampingi oleh Ketua Program KNB FIB UB, Dr. Nia Budiana, M.Pd., dosen pendamping, Faridah Suciyatmi, M.Pd., serta seorang tutor pendamping, M. Rafli. Outing ke Bromo menjadi kegiatan lapangan terakhir setelah para mahasiswa menyelesaikan Ujian Akhir Semester, sekaligus menjadi penutup serangkaian program pengenalan bahasa dan budaya Indonesia yang telah mereka ikuti sejak kedatangan mereka di UB.
Program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) merupakan program beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada mahasiswa dari berbagai negara berkembang. Selain menempuh pendidikan pada jenjang akademik yang dituju, para penerima beasiswa terlebih dahulu mengikuti program BIPA untuk memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia sekaligus memahami budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Berbeda dengan pembelajaran bahasa yang hanya berlangsung di ruang kelas, Program BIPA FIB UB menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Para mahasiswa internasional diajak berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengunjungi situs budaya, mengenal tradisi lokal, hingga merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Selama mengikuti program BIPA, para mahasiswa telah menjalani berbagai kegiatan outing yang dirancang untuk mempertemukan pembelajaran bahasa dengan pengalaman budaya secara langsung. Perjalanan dimulai dengan kunjungan ke berbagai landmark Kota Malang pada September 2025, dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Ganesya dan Hawai Waterpark pada Oktober. Pada bulan November, mereka diajak mengenal sejarah melalui kunjungan ke Candi Singosari dan Sumberawan, kemudian melanjutkan eksplorasi budaya ke Situs Patirtaan Ngawonggo pada Desember.
![Setelah 10 Bulan Belajar Bahasa Indonesia, Mahasiswa KNB UB Rayakan Kelulusan di Bromo]()
Memasuki tahun 2026, para mahasiswa juga berkesempatan mengenal kesenian tradisional melalui kunjungan ke Sanggar Panji Asmoro dan pertunjukan Topeng Malangan. Selain itu, mereka turut merasakan suasana Ramadan di Indonesia melalui kegiatan buka puasa bersama sebelum akhirnya menutup rangkaian outing dengan perjalanan ke Gunung Bromo pada Juni 2026.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah, budaya, nilai-nilai sosial, serta keberagaman masyarakat Indonesia.
Pemilihan Gunung Bromo sebagai lokasi outing terakhir bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indonesia, Bromo menawarkan perpaduan antara keindahan alam, kearifan budaya masyarakat Tengger, serta pengalaman sosial yang sulit diperoleh di ruang kelas.
Perjalanan dimulai pada Jumat malam dengan keberangkatan menuju kawasan Bromo. Setelah menempuh perjalanan sepanjang malam, rombongan tiba di kawasan wisata sebelum fajar dan bersiap menyaksikan momen matahari terbit yang menjadi daya tarik utama Bromo. Bagi sebagian mahasiswa internasional, pengalaman tersebut merupakan kali pertama mereka melihat lanskap vulkanik khas Indonesia secara langsung.
Di sela-sela perjalanan, para mahasiswa juga berinteraksi dengan masyarakat lokal dan mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang telah mereka pelajari. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan komunikasi mereka dalam situasi nyata sekaligus memperluas wawasan mengenai kehidupan masyarakat Indonesia di luar lingkungan kampus.
Nia Budiana menjelaskan bahwa kegiatan outing merupakan bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa internasional. Menurutnya, pembelajaran bahasa tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap budaya dan lingkungan sosial tempat bahasa tersebut digunakan.
“Sebagai bagian dari Program KNB, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk belajar langsung dari lingkungan dan budaya Indonesia. Kami berharap pengalaman di Bromo tidak hanya memperkaya kemampuan berbahasa Indonesia mereka, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas budaya serta menjadi kenangan indah yang akan mereka bawa pulang ke negara masing-masing,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi utama Program BIPA, yakni menjadikan bahasa sebagai jembatan untuk memahami masyarakat dan budaya Indonesia secara lebih mendalam. Melalui pendekatan ini, mahasiswa internasional tidak hanya belajar tata bahasa dan kosakata, tetapi juga belajar memahami cara berpikir, nilai sosial, dan budaya masyarakat Indonesia.
Bagi para peserta, pengalaman selama mengikuti Program BIPA dan outing ke Bromo meninggalkan kesan yang mendalam. Salah satu peserta asal Tanzania, Kombo Ali Kombo, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan selama mengikuti program di FIB UB.
“Saya dengan teman-teman KNB angkatan tahun 2025 pergi ke Gunung Bromo bersama dosen FIB UB. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas program ini. Terima kasih FIB UB. Terima kasih Indonesia, sampai jumpa lagi,” ujarnya.
Kesan serupa juga disampaikan oleh Yahaya Lawan dari Nigeria. Selama belajar Bahasa Indonesia di sini, ia tidak hanya memperoleh kemampuan berbahasa yang lebih baik, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara dan mengenal budaya Indonesia secara langsung.
“Saya sudah belajar Bahasa Indonesia selama sembilan bulan. Kami mengunjungi Bromo untuk berwisata dan belajar. Saya sangat bahagia karena bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara dan mendapatkan pengalaman baru. Terima kasih FIB. Terima kasih International Office UB.
Matur nuwun Pemerintah Indonesia,” ungkapnya.
Program KNB tidak hanya berperan sebagai program pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. Setiap mahasiswa yang mengikuti program ini berpotensi menjadi duta budaya Indonesia ketika kembali ke negara asalnya.
Melalui pengalaman belajar bahasa, mengenal budaya lokal, menjalin persahabatan lintas negara, hingga menikmati keindahan alam Indonesia seperti Gunung Bromo, para mahasiswa memperoleh pengalaman yang membentuk pemahaman mereka tentang Indonesia secara utuh.
“Bagi FIB UB, keberhasilan Program BIPA tidak hanya diukur dari kemampuan berbahasa para peserta, tetapi juga dari sejauh mana mereka memahami dan menghargai keberagaman budaya Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan outing seperti yang dilakukan di Bromo menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman belajar yang bermakna,” ujar Nia Budiana.
“Ketika para mahasiswa KNB nantinya kembali ke Tanzania, Nigeria, maupun negara asal lainnya, mereka tidak hanya membawa sertifikat kemampuan berbahasa Indonesia. Mereka juga membawa cerita tentang keramahan masyarakat Indonesia, kekayaan budayanya, serta pengalaman berharga yang diperoleh selama menjadi bagian dari keluarga besar FIB UB,” pungkasnya.
(lam)