LANGIT7.ID-Banyak orang berjanji akan lebih rajin beribadah jika hidupnya sudah lebih baik. Namun kenyataannya, tidak sedikit yang justru semakin jauh dari Allah ketika keberhasilan mulai menghampiri.
Kesibukan bertambah, tanggung jawab meningkat, dan perhatian lebih banyak tercurah kepada urusan dunia. Tanpa disadari, waktu untuk berdoa berkurang, dzikir mulai jarang, dan hubungan dengan Allah tidak lagi sehangat dulu.
Padahal keberhasilan adalah ujian, sebagaimana kesulitan juga ujian.
Allah ingin melihat apakah nikmat yang diberikan membuat hamba-Nya semakin bersyukur atau justru semakin lalai.
Orang yang bijak memahami bahwa setiap keberhasilan bukan alasan untuk merasa hebat, tetapi alasan untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah.
Ia sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, ia tidak akan sampai pada titik yang sekarang. Karena itu, semakin banyak nikmat yang diterima, semakin banyak pula rasa syukur yang dipanjatkan.
Jangan sampai ketika hidup sedang sulit, kita dekat kepada Allah. Tetapi ketika hidup mulai mudah, kita merasa tidak terlalu membutuhkan-Nya.
Keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya bertambahnya harta, jabatan, atau pencapaian. Keberhasilan yang sejati adalah ketika semua itu membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita naik di dunia yang akan menyelamatkan kita, tetapi seberapa dekat kita dengan Allah saat semua nikmat itu diberikan(*/saf/ Komunitas QM)
(lam)