LANGIT7.ID-Jakarta; Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"Barangsiapa yang Allah luaskan rezekinya namun tidak menyadari bahwa itu bisa jadi merupakan ujian yang bisa menipunya, maka dia tidak memiliki akal.
"Dan barangsiapa yang disempitkan rezekinya namun tidak menyadari bahwa itu adalah bentuk perhatian Allah padanya, maka dia juga tidak memiliki akal."
Ibnu Abi Hatim:
Jika Allah menetapkan untukmu kesempitan rezeki, maka berbaik sangkalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah lebih tahu bahwa inilah yang terbaik untukmu. Bisa jadi, jika rezekimu diluaskan, maka engkau akan rusak. Dan memang, banyak orang seperti itu.
Maka setelah engkau beriman, berusaha, dan bertawakkal, serahkanlah seluruh urusanmu kepada Allah, karena Dia lebih tahu apa yang baik bagimu.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
> "Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya."
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak tahu mana yang terbaik untuk agama kita. Bisa jadi kemiskinan merusak agama seseorang, maka Allah beri dia kekayaan. Atau sebaliknya, kekayaan bisa merusak agama seseorang, maka Allah tahan hartanya. Karena inilah yang terbaik untuknya.
Ini nyata terjadi: ada orang yang rusak ketika memegang banyak harta. Dan ada juga orang yang rusak ketika tidak punya harta. Maka Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk seorang hamba.
Kewajiban kita adalah ridha terhadap ketetapan Allah, dan melihat bahwa sempitnya rezeki bisa jadi itu adalah yang terbaik dan lebih baik bagi kita selama kita beriman dan bertawakkal kepada-Nya. Karena itu adalah pilihan Allah. Maka serahkanlah urusan kepada-Nya.(*/saf/Komunitas QM)
(lam)