JAKARTA -
LANGIT7.ID - Banyak pihak menduga-duga besarnya aset yang dikuasai Muhammadiyah. Media sosial menyebut Rp425 triliun. Ternyata Muhammadiyah sendiri belum masih menghitung angka pasti tentang kekayaan ormas Islam tersebut.
Bendahara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam acara Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang bertemakan "Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas" pada Jumat malam, 26 Juni 2026 menyebut angka-angka fantastis yang ramai dibicarakan publik tersebut belum bisa diverifikasi secara pasti karena proses penghitungan riil di internal organisasi masih berjalan.
Dalam acara yang disiarkan secara langsung melalui TV Muhammadiyah (TVMU) ini menyoroti tata kelola aset organisasi yang kini telah memasuki usia 114 tahun.
Hilman menanggapi kabar yang beredar di media sosial mengenai nilai aset Muhammadiyah yang diklaim mencapai Rp400 triliun hingga Rp425 triliun.
"Bendahara umum saja belum menghitung, sampai Pak Ketua Umum bilang ke saya, 'Mas, belum dihitung, kayaknya belum deh kita menghitungnya.' Saya tanya ke wilayah, berapa asetnya di provinsi? Bingung. Mungkin sekian triliun, baru perkiraan semuanya," ujar Hilman.
Meskipun demikian, Hilman mengapresiasi kebanggaan warga persyarikatan terhadap isu tersebut. Ia menegaskan bahwa PP Muhammadiyah saat ini terus bergerak maju untuk merapikan administrasi melalui penyusunan pedoman-pedoman aset yang lebih baik dan terstruktur.
Investasi Masa DepanDalam pidatonya, Hilman menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah saat ini ditopang oleh dua pilar utama yang mapan, yaitu formasi organisasi masyarakat dan gerakan filantropi yang kuat (zakat, infak, sedekah, dan wakaf).
Namun, memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi organisasi semakin kompleks, terutama terkait pengetatan regulasi pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan.
Untuk memenuhi standar regulasi modern, Muhammadiyah dalam 10 hingga 20 tahun terakhir gencar melakukan investasi besar-besaran, mulai dari pembangunan gedung baru hingga pengadaan alat medis canggih di berbagai rumah sakit miliknya.
"Kalau tidak diikuti, kita ketinggalan. Ini adalah investasi yang luar biasa bahwa kita menyiapkan 10 sampai 20 tahun ini untuk menyongsong 50 sampai 100 tahun yang akan datang," tambahnya.
Ketidakpastian GlobalSelain isu internal, Hilman juga menyoroti perlunya mitigasi risiko keuangan organisasi di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, seperti eskalasi perang, fluktuasi nilai tukar dolar, dan lonjakan harga emas. Ia mengingatkan jajaran pimpinan amal usaha Muhammadiyah agar tidak asal ekspansif tanpa perhitungan yang matang.
"Dalam situasi saat ini, sebagai sebuah gerakan, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita tetap ekspansif, menahan diri, atau mana yang pas? Kita harus hitung kondisinya akan bagaimana sampai beberapa tahun yang akan datang," ujar Hilman.
Pengajian umum ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pakar keuangan nasional, di antaranya intelektual ekonomi syariah Adiwarman Karim dan profesional keuangan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Amri Yusuf, yang dihadirkan untuk memberikan perspektif baru dalam memproyeksikan manajemen keuangan ormas Islam ke depan.
(mif)