LANGIT7.ID-London; Manchester United tak pernah ragu untuk membuat gebrakan lewat rekrutmen pemain bintang. Mulai dari era Sir Alex Ferguson hingga masa-masa sulit perombakan skuad di tahun 2010-an, Setan Merah sering mengandalkan pembelian pemain berprofil tinggi untuk meraih ambisi mereka. Hal ini berarti mereka tak hanya memecahkan rekor transfer internal klub, tetapi juga rekor transfer Inggris, dalam beberapa kesempatan.
Sebagian dari kedatangan megah tersebut kemudian mengukir nama mereka dalam sejarah kaya klub dengan mengangkat trofi paling bergengsi. Namun, sebagian lainnya justru menjadi pelajaran berharga tentang betapa mudahnya bakat kelas dunia layu di bawah tekanan banderol harga selangit di Old Trafford.
Berikut ini, Manchester Evening News mengulas tiga momen spesifik ketika United memecahkan rekor transfer klub mereka, dengan contoh seorang kapten legendaris, mesin gol yang tak kenal lelah, serta pemain gagal fenomenal dari Real Madrid.
Roy Keane – Rp73 Miliar pada 1993Pada musim panas 1993, Sir Alex ingin memperkuat lini tengah yang baru saja mengantar United meraih gelar liga pertama dalam 26 tahun. Sementara itu, Nottingham Forest baru saja terdegradasi, dan gelandang muda mereka yang berusia 21 tahun, Roy Keane, menjadi salah satu pemain paling diburu di sepak bola Inggris.
Pemain asal Irlandia itu tampaknya akan bergabung dengan Blackburn Rovers, tetapi karena dokumen yang dibutuhkan tidak diserahkan tepat waktu, transfer tersebut tidak bisa didaftarkan pada akhir pekan itu. Ferguson mengetahui hal ini dan segera menelepon Keane langsung, lalu mengatur pertemuan yang akhirnya membuat United membajak kesepakatan tersebut.
Investasi sebesar Rp73 miliar itu, yang memecahkan rekor transfer United sebelumnya untuk Gary Pallister pada 1989, segera membuahkan hasil. Keane menjadi jantung tim, membentuk duet tangguh di lini tengah bersama Paul Ince dan kemudian Paul Scholes. Kepemimpinannya terbukti tak ternilai saat United mendominasi era 1990-an dan awal 2000-an.
Keane ditunjuk sebagai kapten klub pada 1997 dan total meraih tujuh gelar Premier League, empat Piala FA, dan Liga Champions. Pada saat kepergiannya yang pahit pada 2005, ia telah memainkan 480 pertandingan untuk klub, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu kapten terhebat sepanjang masa United.
Keane menjadi rekrutan termahal United selama sekitar 18 bulan. Pada Januari 1995, Ferguson kembali berburu pemain untuk mendatangkan Andy Cole dari Newcastle United.
Kesepakatan itu bernilai sekitar Rp136 miliar (Rp117 miliar tunai ditambah Keith Gillespie yang pindah ke Newcastle dengan nilai Rp19 miliar), dan juga memecahkan rekor transfer Inggris. Ketajaman Cole yang tak terbendung, yang membuatnya layak pindah, berlanjut di Old Trafford.
Warisannya diabadikan berkat duetnya dengan Dwight Yorke mulai 1998, dan pasangan ini sangat krusial dalam kemenangan Treble United pada 1998/99. Cole meninggalkan Old Trafford pada 2001 dan pensiun pada 2008 dengan catatan 289 gol resmi di level klub, di mana 121 di antaranya ia cetak saat berseragam merah United.
Ángel Di María – Rp1,16 Triliun pada 2014Setelah finis di peringkat ketujuh yang buruk di bawah asuhan David Moyes, United berupaya melakukan perombakan di bawah pelatih Louis van Gaal pada musim panas 2014. Sangat membutuhkan winger kelas dunia, United mengincar Ángel Di María dari Real Madrid.
Pemain Argentina itu baru saja tampil gemilang sebagai Man of the Match di final Liga Champions 2014 dan membawa negaranya ke final Piala Dunia. United kembali memecahkan rekor transfer Inggris dengan mendatangkannya sebesar Rp1,16 triliun dan memberinya nomor punggung 7 yang ikonis.
Awalnya, langkah ini tampak cemerlang karena Di María mencetak tiga gol dan empat assist dalam enam pertandingan pertamanya. Namun, masa manis itu segera berakhir. Sistem possession Van Gaal yang kaku dan sangat terstruktur justru membunuh kreativitas Di María, yang kemudian memicu ketegangan di antara keduanya.
Di luar lapangan, percobaan perampokan di rumahnya di Cheshire membuat keluarganya tidak nyaman dan ingin segera meninggalkan Inggris. Memasuki paruh kedua musim, Di María mulai duduk di bangku cadangan dan mengakhiri musim dengan hanya empat gol. Ia menolak naik pesawat untuk tur pramusim United ke Amerika Serikat dan akhirnya dijual ke Paris Saint-Germain dengan kerugian finansial, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pembelian termahal yang gagal di Old Trafford.(*/saf/manchestereveningnews)
(lam)