LANGIT7.ID-Jakarta; King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre (KSrelief) menjadi salah satu pihak yang mendorong peran diplomasi dalam memperkuat upaya kemanusiaan di wilayah yang dilanda perang dan bencana. Lembaga bantuan Arab Saudi itu menjadi tuan rumah bersama dalam pertemuan tingkat tinggi di sela-sela Sidang Umum PBB pada Rabu.
Pertemuan tersebut membahas bagaimana diplomasi dapat mendukung upaya kemanusiaan di tengah berbagai krisis yang semakin kompleks.
“Kerja kemanusiaan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari hambatan politik, bencana alam, pelanggaran hukum humaniter internasional hingga kesenjangan pendanaan,” kata Pengawas Umum KSrelief Abdullah Al-Rabeeah.
Acara tersebut dihadiri Arab News bersama pejabat Pakistan, PBB, Eropa, serta perwakilan organisasi hak asasi manusia.
Sejak didirikan pada 2015, KSrelief telah menjalankan 4.463 proyek kemanusiaan di 113 negara. Total dana yang telah digelontorkan mencapai lebih dari US$8,5 miliar untuk berbagai kebutuhan, termasuk ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, air, dan sanitasi.
Al-Rabeeah mengatakan hambatan utama dalam pelaksanaan bantuan kemanusiaan kini semakin banyak berasal dari persoalan politik, bukan lagi sekadar kendala operasional.
“Sekarang, hampir 120 juta orang terpaksa mengungsi di seluruh dunia. Untuk menghadapi kenyataan pahit ini, diplomasi harus secara sengaja dikaitkan dengan hasil-hasil kemanusiaan di Timur Tengah dan seluruh dunia,” ujarnya.
Situasi di Gaza juga menjadi sorotan. Menurut Al-Rabeeah, komunitas kemanusiaan menghadapi keterbatasan besar dalam memberikan bantuan di tengah penderitaan yang terus berlangsung.
“Di Gaza, komunitas kemanusiaan seolah tidak berdaya menghadapi penderitaan yang begitu besar,” katanya.
“Warga sipil dan pekerja bantuan menjadi sasaran, truk-truk bantuan diserang, masyarakat menghadapi serangan drone, anak-anak diserang, perempuan menghadapi kekerasan seksual, dan akses (kemanusiaan) tidak hanya dipersenjatai, tetapi juga menghadapi hambatan birokrasi.”
Al-Rabeeah menyerukan agar upaya diplomatik diterjemahkan menjadi tindakan kemanusiaan yang konkret. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mewujudkan stabilitas kawasan sekaligus menghadirkan respons bantuan terhadap berbagai tantangan kemanusiaan global.
“Penghormatan terhadap hukum humaniter internasional bukanlah sebuah pilihan. Serangan terhadap warga sipil dan personel bantuan tidak boleh pernah dihadapi dengan diam dan impunitas,” ujarnya.
Pekan ini, Al-Rabeeah juga bertemu dengan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus untuk membahas kerja sama dalam upaya kemanusiaan.
Dalam pertemuan tersebut, KSrelief menandatangani kesepakatan senilai US$5,3 juta dengan WHO untuk memerangi kolera di kawasan Cekungan Danau Chad.
Sementara itu, pada Agustus, KSrelief meluncurkan program untuk merehabilitasi bangunan pendidikan dan fasilitas komunitas yang rusak akibat perang saudara di sejumlah wilayah di Suriah, yakni Homs, Daraa, dan Deir Ezzor.
(lam)