LANGIT7.ID-Jakarta; Liga Muslim Dunia (MWL) menggelar acara bertajuk “AI untuk Semua: Iman, Martabat Manusia, dan Kecerdasan Buatan” pada Kamis dengan dukungan dan partisipasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian pekan tingkat tinggi Sidang Umum PBB.
Acara itu dihadiri Sekretaris Jenderal MWL sekaligus Ketua Asosiasi Cendekiawan Muslim Liga Muslim Dunia Sheikh Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, Perwakilan Tinggi PBB untuk Aliansi Peradaban Miguel Moratinos, serta Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Ismail Ould Cheikh Ahmed.
Pertemuan tersebut juga mempertemukan para pemimpin agama yang terlibat dalam penelitian etika kecerdasan buatan (AI), perwakilan perusahaan AI besar Amerika Serikat, Bank Dunia, sejumlah universitas terkemuka di AS, serta kandidat-kandidat utama untuk posisi Sekretaris Jenderal PBB.
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan itu adalah pentingnya keterlibatan internasional yang beragam dalam menangani persoalan etika AI, termasuk menghadirkan perspektif agama dan peradaban serta prinsip-prinsip etika yang mereka miliki bersama.
Pertemuan tersebut turut membahas konten yang dihasilkan AI yang mendukung atau mendorong kebencian, kekerasan, serta konflik antarperadaban yang dipicu motif ideologis, keagamaan, maupun pemikiran terkait lainnya.
Konferensi itu kemudian menghasilkan rekomendasi agar Aliansi Peradaban PBB mengembangkan “Kode Etik AI Aliansi Peradaban” dan membentuk komite yang dipimpin oleh organisasi tersebut untuk menjalankan inisiatif itu.
Komite yang diusulkan akan melibatkan kelompok beragam yang terdiri dari pemimpin agama, pakar intelektual, pendidikan dan legislatif, serta perwakilan perusahaan teknologi. Komite tersebut akan bertugas mengembangkan kerangka kerja internasional bersama yang mencerminkan kerja sama antarperadaban dalam bidang etika AI.
Moratinos mengatakan Aliansi Peradaban siap menjalankan inisiatif tersebut.
Secara terpisah, Al-Issa mengumumkan bahwa MWL berencana mendirikan laboratorium AI bekerja sama dengan perusahaan teknologi. Laboratorium itu akan mengembangkan berbagai program yang dapat memberikan manfaat bagi lembaga keagamaan, pendidikan, dan kemanusiaan yang bergerak di bidang urusan agama.
Ia juga mengatakan organisasi tersebut akan mendigitalisasi sejumlah sumber dan buku Islam serta berbahasa Arab untuk kemudian tersedia bagi perusahaan AI, dengan tetap menghormati hak kekayaan intelektual.
Selain itu, Al-Issa mengumumkan rencana pembentukan unit khusus untuk memantau dan mengoreksi kesalahan penerjemahan, kemudian menyebarluaskan hasil temuannya.
Menurut dia, telah ditemukan banyak kesalahan dalam penerjemahan teks-teks Islam dan kajian terkait. Kesalahan tersebut menyebabkan munculnya konsep dan interpretasi yang tidak mencerminkan kebenaran, sehingga berujung pada persepsi dan keyakinan yang keliru. (arabnews/bil)
(lam)