Oleh : Ichwan A. Basri
LANGIT7.ID-Dalam setiap pengantar ilmu ekonomi makro, kita selalu disuguhi sebuah bagan legendaris: circular flow of income (arus lingkaran pendapatan). Model yang dipopulerkan oleh peraih Nobel, Paul Samuelson, ini digambarkan dengan begitu presisi dan elegan. Ia melukiskan bagaimana uang dan faktor produksi berputar tanpa henti antara Rumah Tangga, Perusahaan, Pemerintah, hingga Sektor Luar Negeri.
Model ini bisa ditarik secara global untuk melihat PDB suatu negara, atau diurai secara rinci hingga ke sirkulasi lembaga keuangan.
Sekilas, model ini tampak seperti mesin yang sempurna. Ketika industri lesu dan pengangguran melonjak, mekanisme pajak dan transfer pemerintah akan turun tangan sebagai pendorong. Sebaliknya, saat ekonomi mencapai titik puncak (peak), semua orang tampak bahagia dalam kondisi full employment.
Namun, jika kita bersedia menengok lebih dalam ke balik angka-angka statistik dan garis panah yang dingin itu, kita akan menemukan sebuah kekosongan filosofis yang akut. Model ekonomi Barat ini ternyata dibangun di atas fondasi yang sekuler, mekanistik, dan yang paling fatal: mengebiri fitrah terdalam manusia.
Monopoli Kebaikan oleh Negara
Mari kita bayangkan sebuah realitas di mana model jaring pengaman sosial (welfare state) milik Samuelson ini bekerja secara totalitas 100 persen. Ketika seorang anak yatim ditinggal mati oleh ibunya, sistem ini secara teori langsung bekerja. Negara memungut pajak yang tinggi dari masyarakat yang mampu, lalu menyalurkannya kembali dalam bentuk dana transfer atau santunan kematian. Secara administratif, anak tersebut terjamin.
Namun, dalam desain matematis yang "sempurna" ini, sadarkah kita apa yang hilang? Yang hilang adalah celah bagi manusia untuk bersedekah. Dalam model circular flow, poros jaring pengaman sosial sepenuhnya dimonopoli oleh formula: Pajak → Pemerintah → Transfer. Sistem ini sengaja menutup ruang bagi motif spiritual atau tindakan sukarela berbasis iman. Mengapa? Karena dalam kacamata ekonomi Barat, manusia direduksi menjadi sebatas Homo Economicus—makhluk rasional-egois yang perilakunya hanya digerakkan oleh kepuasan materiil individu (utility maximization) atau paksaan hukum negara.
Ketika negara mengambil alih seluruh fungsi moralitas, kebaikan tidak lagi lahir dari ketulusan hati atau panggilan agama, melainkan menjelma menjadi potongan angka yang dingin pada slip gaji bulanan. Hubungan antar-manusia yang hangat dan organik diubah menjadi hubungan birokrasi yang kaku antara pembayar pajak dan penerima bansos.
Penyumbatan Fitrah dan Keringnya Empati
Padahal, ada satu hukum alam yang gagal ditangkap oleh Samuelson: dalam diri manusia, ada fitrah suci untuk berbuat baik kepada sesama demi mengejar ridha Tuhan dan pahala. Memberi, membantu keponakan yang kesusahan, atau menyantuni tetangga yang kelaparan bukan sekadar transaksi pengurangan nominal harta. Bagi manusia yang beriman, memberi adalah sebuah kebutuhan jiwa. Ketika model ekonomi Barat mengasumsikan bahwa semua urusan sosial bisa diselesaikan oleh cek bulanan dari dinas sosial, mereka tidak hanya menyumbat jalur filantropi organik, tetapi juga mengeringkan empati di tengah masyarakat.
Konsep "berkah"—di mana harta berkurang secara materi namun bertambah secara spiritual—dianggap tidak logis dan dieliminasi total karena tidak bisa dihitung dalam rumus Produk Domestik Bruto (PDB). Akibat dari penyumbatan fitrah ini tidak main-main. Di banyak negara maju yang menerapkan sistem pengaman sosial paling mapan sekalipun, masyarakatnya justru kerap didera krisis eksistensial, kesepian, dan keretakan hubungan kekeluargaan. Manusia kehilangan saluran untuk mengekspresikan tanggung jawab moral dan kasih sayang secara langsung kepada sesamanya.
Kesimpulan: Mengembalikan Manusia pada Hakikatnya
Model circular flow of income milik Paul Samuelson mungkin berhasil melacak ke mana setiap sen uang berputar di dalam pasar. Namun, model ini gagal total dalam memahami esensi manusia itu sendiri. Model ini sekuler karena menceraikan dimensi ketuhanan dari aktivitas bumi, dan ia cacat karena mengasumsikan manusia sebagai robot pengonsumsi barang.
Sudah saatnya kita melihat batasan dari ilmu ekonomi Barat yang dingin ini. Menolong keponakan yang yatim, bersedekah, dan bergotong-royong bukanlah komponen "kebocoran" (leakages) yang mengganggu efisiensi pasar. Mereka adalah mekanisme koreksi mikro-organik yang menjaga agar manusia di dalam sistem ekonomi tidak jatuh dan hancur di antara celah-celah angka statistik. Manusia bukanlah sekadar roda penggerak sirkulasi uang; kita adalah makhluk spiritual yang merindukan makna, pahala, dan berkah di setiap harta yang mengalir.
Wallahu A’lam Bish-Showab(penulis adalah Dosen Pasca Sarjana Institut Ilmu Alqur'an)
(lam)