Ayat ke-78 dari Surat Al-Baqarah merupakan bagian dari rangkaian ayat yang mengupas perdebatan antara kaum Muslimin dan Ahli Kitab di Madinah. Melalui ayat ini, Allah SWT menyingkap dua kelompok masyarakat Yahudi yang bermasalah: para ulama mereka yang gemar mengubah isi kitab suci, serta kaum awam yang tidak memiliki ilmu dan hanya bergantung pada taklid buta.
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّآ أَمَانِىَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga (QS Al-Baqarah: 78).
Al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menegaskan kepada kaum mukminin agar tidak menaruh harapan bahwa kelompok tersebut akan beriman, mengingat sebagian mereka terbiasa mendengarkan firman Allah namun sengaja membelokkan maknanya setelah memahaminya.
Pada bagian awal ayat, Allah SWT menggunakan frasa wa minhum ummiyyun untuk menggambarkan kondisi sebagian dari mereka yang tergolong ummi. Berbagai penjelasan ulama tafsir seperti al-Tabari, al-Baghawi, hingga Ibnu Katsīr sepakat bahwa kata tersebut merujuk kepada orang-orang yang tidak mahir dalam membaca maupun menulis.
Al-Biqā'ī bahkan menambahkan bahwa makna ummi tidak sebatas tidak bisa menulis, tetapi bisa pula mencakup orang yang berwatak kasar serta jauh dari pemahaman mendalam. Sementara itu, Syeikh as-Sa'di mengartikannya secara ringkas sebagai golongan orang awam yang bukan dari kalangan ahli ilmu.
Baca Juga: Desy Ratnasari Ungkap Tantangan Main di Hamka Vol. 3, Dialek Minang Jadi Ujian Terbesar
Inti pembahasan berikutnya terletak pada penggalan la ya'lamun al-kitab illa amaniyya, yang menggambarkan bahwa pengetahuan kelompok awam tersebut terhadap kitab suci hanyalah sebatas angan-angan atau bacaan belaka. Para ulama menuturkan bahwa mereka menghafal dan melafalkan ayat-ayat tersebut tanpa benar-benar memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Sebagian mufassir juga menyebutkan bahwa kata amani turut merefleksikan dongeng atau karangan dusta yang sengaja ditulis oleh para pendeta mereka dan dinisbahkan kepada Allah SWT.
Penggalan akhir ayat, yakni wa in hum illa yazunnun, menegaskan bahwa landasan berpikir kelompok tersebut hanyalah sebatas dugaan semata, bukan atas dasar ilmu yang meyakinkan. Syeikh as-Sa'di menjabarkan bahwa kondisi ini mencakup potret ulama mereka yang tetap bersikeras dalam kesesatan serta kaum awam yang mengekor tanpa memiliki pandangan yang jelas (bashirah).
Dari uraian di atas, terdapat beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik. Pertama, sebutan ummi tidak selalu bermakna negatif, sebagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri disifati demikian karena tidak bergantung pada baca-tulis buatan manusia.
Kedua, hafalan dan pelafalan ayat tanpa disertai pemahaman serta perenungan mendalam tidak akan memberikan manfaat yang utuh. Ketiga, sikap taklid atau mengekor tanpa landasan ilmu yang benar justru akan menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan yang dilakukan oleh pihak yang diikutinya.
Baca Juga: Dorong Haji Muda, BPKH dan Bank Muamalat Sambangi Diaspora Indonesia di Malaysia
