LANGIT7.ID, Jakarta - Sebanyak tiga desa wisata terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang "UNWTO Best Tourism Villages 2021". Ketiga desa wisata tersebut ialah Desa Wisata Nglanggeran di Gunung Kidul, DIY Yogyakarta; Desa Wisata Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Desa Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Ketiga desa ini siap beradu keindahan alam dengan desa wisata di berbagai belahan dunia lainnya, antara lain Murcia (Cehegin), Spanyol; Alonissos, Westerb Samos, dan Soufli yang mewakili Yunani; serta desa wisata dari Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Kamboja, dan masih banyak lagi.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ketiga desa yang berhasil mewakili Indonesia di ajang internasional tersebut.
"Mudah-mudahan ini menjadi langkah kita bersama dalam menjadikan desa wisata di Indonesia sebagai pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat," kata Sandiaga dalam keterangannya seperti dikutip Selasa (2/11).
Baca juga:
Silek on the Sea Jadi Unggulan Pariwisata Kota PariamanSandiaga juga menyebut lomba desa wisata bertaraf internasional ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, sekaligus sebagai salah satu upaya mempromosikan pariwisata Indonesia di kancah global.
Desa Wisata Nglanggeran yang terletak di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DIY, tepatnya di kawasan Gunung Api Purba menjadi daya tarik terbesar dari desa wisata ini. Gunung Api Purba merupakan bagian dari Geopark Gunung Sewu (geopark yang diakui oleh dunia).
Selain Gunung Api, Desa Nglanggeran juga memiliki keunikan di Kampung Pitu, di mana satu kampung ini hanya boleh diisi 7 keluarga. Kemudian adapula Embung Nglanggeran, objek wisata berupa tampungan air seluas 0,34 hektare ini digunakan sebagai pengairan kebun warga.
Desa ini juga kaya akan potensi seni dan budaya seperti Tarian Reog Nglanggeran, GejogLesung, Jathilan, Kenduri, Karawitan, dan Festival Kirab Budaya. Ada juga otensi ekonomi kreatif seperti kerajinan batik, olahan spa, dan deretan kuliner.
Sementara di Desa Wisata Tetebatu, menjadi magnet pemikat bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi kawasan yang berada lembah Gunung Rinjani ini. Berbagai pemandangan alam yang ditawarkan seperti Gunung Sangkareang, Gunung Rinjani, hingga hamparan sawah terasering.
Yang paling menggoda dari desa ini adalah dua air terjunnya, yakni air terjun Sarang Walet atau Bat Cave dan air terjun Kokok Duren. Wisatawan juga bisa mengunjungi Hutan Monyet, kebun kopi, cokelat, vanili, dan cengkeh milik masyarakat setempat.
Baca juga:
The Hub Equestrian Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Halal di JakartaDesa Wisata Tetebatu juga menawarkan wisata religi dengan melihat peninggalan bersejarah berupa Alquran kuno yang sudah berusia 200 tahun. Alquran yang terbuat dari bahan kayu dan kulit onta ini, konon merupakan asli tulisan tangan.
Alquran kuno tersebut disimpan di sebuah rumah yang disebut bale kemaliq di Dusun Tete Batu Lingsar, Kecamatan Sikur. Kini, Alquran itu diwariskan kepada Jinarim alias Sukirman yang mengaku mendapatkan benda bersejarah itu dari kakeknya secara turun-temurun.
Dan yang terakhir Desa Wae Rebo atau sering disebut sebagai surga di atas awan, mengingat letaknya di atas ketinggian 1.000 mdpl. Tak heran jika pemandangan yang disuguhkan begitu memukau, layaknya lukisan.
Untuk mengunjungi desa ini, wisatawan harus melakukan tracking menyusuri jalan setapak, membelah hutan, hingga menyusuri sungai sepanjang 6 kilometer. Wisatawan harus mempersiapkan kondisi tubuh yang bugar untuk menuju ke lokasi.
Desa Wae Rebo memiliki rumah adat ikonik yang menjadi perhatian wisatawan, yakni Mbaru Niang yang berbentuk kerucut. Berbagai acara adat pun juga selalu dilakukan setiap tahunnya, seperti upacara persembahan untuk roh yang menghuni tempat Wae Rebo yang dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada Juni dan Oktober 2021.
Selain itu, ada upacara pernikahan dan upacara kelahiran. Dengan eksotisme alam dan budaya Desa Wae Rebo, maka tidak heran jika mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada Agustus 2012.
(sof)