LANGIT7.ID, Jember - Pondok Pesantren Nurul Ulum, Jember, Jawa Timur bisa menjadi contoh dalam mendidik para santri untuk menjadi pengusaha. Selama berada di pesantren, para santri tidak hanya dibekali pendidikan akhlak, adab, maupun ilmu agama.
Sejak 2012 lalu, pesantren ini telah melatih keterampilan para santri dalam mengolah kopi. Tak hanya para santri, pesantren ini juga mampu memberdayakan ekonomi warga sekitar. Kopi menjadi pilihan lantaran Desa pace, Kecamatan Silo, Jember memang memiliki potensi kopi yang sangat menjanjikan.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Ulum, Gus Tantowi, mengatakan, pesantren memanfaatkan sumber daya alam di desa tersebut. Hasil alam itu kemudian diolah untuk menjadi produk unggulan pesantren. Kopi khas Silosanen ini menarik karena memiliki kekhasan paduan unsur coklat.
“Kopi di sini memang mempunya kekhasan. Kopi Silosanen ini kental dan khas kecoklatan. Kopi Robusta yang kami budidayakan ada kecoklatannya,” kata Gus Tantowi, dikutip lama OPOP Jatim, Sabtu (13/11/2021).
Sebelum pesantren menjadikan kopi sebagai produk unggulan, masyarakat setempat hanya menjual biji kopi saja. Kopi hasil panen itu dibeli oleh orang luar lalu dijual dalam bentuk buku. Maka itu, pesantren ingin mengubah pola tersebut agar bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Kami membuat produk Kopi Bubuk, karena masyarakat di sini penghasilan utamanya adalah dari kopi. Kami pihak pesantren dengan visi sebagai agent of change, berusaha agar bisa memutus mata rantai harga dari petani ke pengepul. Di samping itu juga akan memodif untuk menjual kopi dalam bentuk kemasan ke pasaran,” ucap Gus Tantowi.
Kopi yang dikembangkan pihak Pesantren Nurul Ulum tidak bercampur dengan kopi daerah lain. Murni hasil bumi daerah Desa Pace. “Kami hanya mengolah dan menjual kopi bubuk khas pegunungan Silosanen, yang lokasinya sangat dekat dengan di sini. Ini merupakan murni hasil bumi dari masyarakat dan pesantren di Desa Pace,” ucapnya.
Kopi yang berlabel ‘An-Nujun’ itu berbentuk bubuk yang dikemas dalam plastik berukuran seperempat kilogram hingga satu kilogram. Pesantren Nurul Ulum juga menawarkan kemasan dalam bentuk saset.
Untuk menjamin mutu terbaik, pesantren yang bergabung dalam OPOP Jatim itu memproduksi kopi bubuk dengan alat tradisional, terutama proses sangria dan penumbukan. Kopi disangrai dengan menggunakan kayu bakar dan ditumbuk dengan memakai lesung, tidak diselep.
“Kami ingin mempertahankan ciri khas kopi desa dengan aroma yang khas pula,” ucap Gus Tantowi.
(jqf)