LANGIT7.ID - , Bogor - Ustadz Arifin Ilham yang meninggal pada bulan Mei 2019 karena kanker kelenjar getah bening, sontak membuat duka masyarakat Indonesia, terkhusus bagi orang di sekitar beliau.
Majelis Azzikra di Sentul, Bogor, Jawa Barat yang identik dengan figur beliau juga terkena dampak yang luar biasa. Termasuk lembaga pendidikan yang ada di kawasan Azzikra Sentul dan juga Gunung Sindur. Karena dahulu berbasis figur, membuat dampak yang signifikan ketika sosok tersebut sudah tidak ada.
Baca juga: 7 Potret Masjid Azzikra Sepeninggal Ustadz Arifin Ilham dan Ameer AzzikraUstadz yang terkenal dengan majelis zikirnya ini memiliki jamaah yang cukup banyak. Hampir setiap Ahad pekan pertama setiap bulannya, kawasan Azzikra selalu penuh dan macet dipadati jamaah yang datang dari berbagai daerah, untuk mengikuti kajian bulanan majelis Azzikra.
Lalu bagaimana kabarnya saat ini? Mungkin banyak masyarakat muslim yang belum tahu, apa gebrakan yang dibuat untuk menggairahkan gerakan majelis zikir Azzikra ini.
Sekretaris Yayasan Azzikra Irfan Adian, menjelaskan jika Ustadz Arifin Ilham merupakan corong dakwah dan figur yang kuat.
"Setelah beliau meninggal, ada penurunan yang signifikan dari jamaah majelis. Dari segi pendapatan juga ada penurunan yang signifikan." katanya kepada Langit7.id pada Senin (27/12/2021).
Butuh waktu yang cukup lama bagi yayasan untuk bisa berbenah dan bangkit, serta mengubah konsep dari yang berbasis figur kepada basis non figur.
"Butuh waktu setelah meninggalnya almarhum untuk bangkit dan berimprovisasi, namun saat hendak bangkit ternyata dihantam pandemi." ucap Irfan.
Pandemi yang datang ke Indonesia pada Maret 2020, praktis membuat kegiatan dakwah di Yayasan Azzikra ini ikut vakum. Sebab mengikuti arahan dari pemerintah untuk pembatasan kegiatan hingga pada bulan Oktober 2021 di mana ada pelonggaran dari masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).
"Pada bulan Oktober 2021, dibentuk kepengurusan baru di yayasan, dengan pembina Ustadz Abdus Syukur dan Ketua Yayasan H. Khatib Kholil. Tujuannya menguatkan kembali kepercayaan jamaah," kata Irfan.
Irfan juga menjelaskan dalam kepengurusan baru ini ada semangat baru, "Kami dituntut sebagai khadimul ummah, pelayan ummat, artinya bahwa pelayanan kepada jamaah, mulai dikuatkan kembali," ujarnya.
Untuk menguatkan kembali majelis Azzikra seperti dahulu, ada beberapa program yang sebetulnya sudah berjalan dari dahulu namun di modifikasi kembali.
Ketua Yayasan Azzikra H. Khotib Kholil, yang ditemui langit7 menjelaskan beberapa program tersebut. Sebelumnya beliau sempat bercerita bahwa kepergian Ameer juga merupakan pukulan bagi yayasan yang bernaung di dua tempat ini, yaitu Azzikra Sentul dan Azzikra Gunung Sindur.
"Ustadz Ameer awalnya direncanakan dan disiapkan untuk jadi figur penerus Ustadz Arifin Ilham." kata Khotib. "Dampaknya bagi regenerasi pasti ada, tapi pasti Allah kasih jalan lain." imbuhnya.
Berikut beberapa program yang sudah ada dan tidak ada yang berubah, meski sempat terhenti karena pandemi. Tapi saat ini sudah diadakan kembali dengan sedikit modifikasi, seperti yang dijelaskan Khotib Kholil.
Setiap harinya, mulai dari Senin-Sabtu, Yayasan Azzikra tempat menjalankan program Halaqah Subuh. Kegiatan kajian berbentuk lingkaran kecil ini dijalankan setelah salat subuh.
Kemudian ada Ratibul Haddad atau kegiatab amalan yang berisi doa dan dzikir yang disusun oleh ulama asal Hadramaut, Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Haddad (1055-1132 H). Kegiatan ini diadakan setiap pekan pada Kamis malam.
Majelis zikir pun tetap berjalan rutin yang diadakan setiap Ahad pekan pertama setiap bulannya. Namun, ada perubahan konsep pada program ini yaitu dengan menyertakan ulama-ulama besar untuk ikut ambil bagian dalam majelis bulanan ini.
"Bulan November kemarin ada Mamah Dedeh dan KH. Sobri, kemudian awal Desember kemarin ada Habib Novel Alaydrus. Bulan depan tanggal 2 Januari 2022 insyaallah ada Ust. Abdul Somad, selanjutnya nanti ada Aa Gym, KH. Didin Hafidhuddin, Ust. Adi Hidayat, dan lain-lain." papar Khotib Kholil.
Program selanjutnya yang masih berjalan adalah pendidikan yang ada di Yayasan Azzikra. Saat ini ada beberapa tingkatan, mulai dari RA, MI, SMPIT, MA dan juga Muadalah.
"Khusus Muadalah adanya di Gunung Sindur," kata Khotib.
Baca juga: Pesantren Az-Zikra Gunung Sindur, Tempat Almarhum Ameer Azzikra Menuntut IlmuMuadalah yakni pesantren yang berbasis waktu 6 tahun belajar, tidak mengikuti Kurikulum Kemdikbud (SD, SMP, SMA) atau kurikulum Kemenag (MI, MTS, MA) akan tetapi alumni Pondok Mu’adalah dapat di terima (diakui) di perguruan tinggi luar negri seperti Al Azhar, Ummul Quro’ dan sebagainya.
"Selama ini berbasis figur, sehingga ketika figur tidak ada menjadi menurun. Sekarang, ada perubahan dengan menonjolkan kurikulum yang baik." kata Khotib.
"Sekarang program unggulan yang kami tawarkan adalah program tahfiz plus 7 sunnah. Dengan harapan, santri tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tapi dididik juga untuk bisa meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW." tutup Khotib.
(est)