LANGIT7.ID, Yogyakarta - Tak bisa dipungkiri, Muhammadiyah menjadi salah satu ormas Islam yang banyak mewarnai kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Sejak berdiri, persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu telah memulai proyek pembaruan melalui ijtihad dengan melakukan purifikasi dan modernisasi.
Purifikasi dilakukan Muhammadiyah dalam bidang akidah dan ibadah, sementara modernisasi diaplikasikan dalam urusan muamalah duniawiyah. Peran Muhammadiyah itu kian terlihat jelas saat Majelis Tarjih didirikan pada 1928.
Majelis Tarjih berdiri berdasarkan keputusan Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan pada 1927. Dalam perjalanannya, Majelis Tarjih merasa perlu menyiapkan regenerasi ulama Tarjih. Mereka diharapkan bisa melanjutkan tongkat estafet aktivitas tarjih yang menjadi corak Muhammadiyah.
Corak Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modern yang mengedepankan pemikiran agama yang segar, adaptif, dan menjawab tantangan umat namun tetap mengakar pada sumber-sumber Al-Qur'an dan Hadits.
Dari gagasan itu, pada 10 April 1968 dibuka Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Institusi pendidikan itu diharapkan bisa menghadirkan banyak ulama tarjih yang siap kembali ke Persyarikatan Muhammadiyah di berbagai lapisan pimpinan, mulai pusat hingga ranting.
Baca Juga: Ki Bagus Hadikusumo: Ulama Muhammadiyah Perumus Pembukaan UUD 1945
Lalu, bagaimana awal mula pendirian Majelis Tarjih Muhammadiyah?
Sejarawan Muhammadiyah Ghifari Yuristiadhi Masyhari, menjelaskan, pada dua dekade pendirian Muhammadiyah atau era tahun 20-an, terjadi pergolakan ideologi yang cukup menarik. Dia menyebut fase itu sebagai supermarket ideologi.
Pada periode itu Syarikat Islam terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu putih dan kubu merah. Kubu putih bertransformasi mendirikan Partai Syarikat Islam Indonesia. Sementara kubu merah menjadi Partai Komunis Indonesia.
Pada era itu pula muncul wacana nasionalisme yang ditandai dengan pendirian Partai Nasional Indonesia. Ahmadiyah juga masuk ke Indonesia. Di sisi lain, gerakan kristenisasi juga kian marak.
Saat kristenisasi masif melakukan gerakan, Muhammadiyah melawan dengan gerakan. Ketika penginjil mendirikan sekolah, Muhammadiyah turut mendirikan sekolah Islam. Muncul panti asuhan Katolik, Muhammadiyah mengimbanginya dengan mendirikan Panti Asuhan Muslim, begitu seterusnya.
"Itu kontestasi yang sehat pada awal 20-an. Tetapi kemudian berubah menjadi lebih ideologis, lebih sentimentil pada pertengahan 20-an," kata Ghifari dalam webinar Santri Cendekia Forum, beberapa waktu lalu.
Supermarket ideologi itu lalu memunculkan ide pendirian Majelis Tarjih yang diinisiasi KH Mas Mansur. Majelis Tarjih sesuatu yang baru di tubuh Muhammadiyah. Sebab, pada awal pendirian, Muhammadiyah hanya fokus pada gerakan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pustaka (literasi).
Baca Juga: Muhammadiyah Resmi Dirikan Sekolah Formal di Australia
Namun, sebelum ada majelis tersebut, Muhammadiyah sudah melakukan tarjih. Hanya saja tidak terlalu spesifik. Justru majelis itu menjadi titik temu antara gerakan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pustaka di Muhammadiyah.
"Kami sepakat awal pendirian Muhammadiyah sekilas memang tidak ada majelis tarjih, karena Majelis Tarjih lahir pada 1927. Tetapi, sebetulnya sisi ketarjihan sudah muncul, pada konteks apa? Bagaimana mengidentifikasi bid'ah, bagaimana menghindarkan masyarakat dari tahayul dan khurafat. Itu juga sudah dihadirkan Muhammadiyah di awal berdiri, meskipun spektrum pelayanan sosial itu lebih dominan," ujar Ghifari.
Dari sisi internal, tubuh Muhammadiyah juga mengalami pergolakan. Ada banyak perdebatan antara pimpinan Muhammadiyah dengan anggota organisasi yang berbasis di Yogyakarta itu.
"Wacana keagamaan Muhammadiyah itu menarik pada tahun-tahun itu, karena mulai ada perdebatan-perdebatan, memang post tarjih, tetapi itu menggambarkan dinamika yang cukup maju," tutur Ghifari.
Hingga saat ini, Majelis Tarjih menjadi pilar penting di tubuh Muhammadiyah. Bisa dibilang, majelis itu menggawangi semua keputusan keagamaan warga Muhammadiyah, mulai dari masalah akidah, akhlak, ibadah, hingga muamalah.
Pada awal berdiri, Majelis Tarjih telah dipimpin 8 tokoh Muhammadiyah. Mereka adalah KH Mas Mansur, KH Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Badawi, Krt KH Wardan Diponingrat, KH Azhar Basyir, Prof. Drs. Asjmuni Abdurrohman, Prof. Dr. H. Amin Abdullah, dan Dr. H. Syamsul Anwar.
Majelis Tarjih mempunyai kedudukan istimewa di tubuh Muhammadiyah. Selain berfungsi sebagai pembantu Pimpinan Persyarikatan, mereka memiliki tugas untuk memberikan bimbingan keagamaan dan pemikiran di kalangan umat Islam di Indonesia.
Maka dari itu, tidak berlebihan jika dikatakan, Majelis Tarjih merupakan 'think thank'-nya Muhammadiyah. Ia bagaikan sebuah processor pada komputer, yang bertugas mengelola data yang masuk sebelum dikeluarkan lagi pada monitor.
Secara umum, majelis ini memiliki 5 lima tugas, di antaranya:
1. Mempergiat pengkajian dan penelitian ajaran Islam dalam rangka pelaksanaan tajdid dan antisipasi perkembangan masyarakat.
2. Menyampaikan fatwa dan pertimbangan kepada Pimpinan Persyarikatan guna menentukan kebijaksanaan dalam menjalankan kepemimpinan serta membimbing umat, khususnya anggota dan keluarga Muhammadiyah.
3. Mendampingi dan membantu Pimpinan Persyarikatan dalam membimbing anggota melaksanakan ajaran Islam.
4. Membantu Pimpinan Persyarikatan dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas ulama.
5. Mengarahkan perbedaan pendapat/faham dalam bidang keagamaan ke arah yang lebih maslahat.
(jqf)