Langit7, Bogor - Bogor menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh sebagian warga, terutama asal ibu kota yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk keramaian kota.
Selain Puncak dan Taman Safari, masih terdapat banyak tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Salah satu wisata yang menjadi
hidden gem atau permata tersembunyi di Bogor, yakni Agrowisata Leuwi Pangaduan.
Agrowisata yang terletak di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kota Bogor, Jawa Barat itu memiliki daya tarik tersendiri. Di mana menyajikan nuansa pemandangan alam, berikut kolam air terjun berukuran kecil yang terbentuk dari proses alam.
Baca juga: Picknic, Wisata Virtual Sekaligus Wadah Promosi UMKM![Agrowisata Leuwi Pangaduan Jadi Hidden Gem di Bogor]()
Namun, siapa sangka,
hidden gem ini ternyata dikembangkan oleh Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19. Dalam yayasan ini, berisi kelompok mantan narapidana terorisme (napiter) yang telah kooperatif dan harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat.
Salah satu pengurus, Hendi Suhartono mengatakan, agrowisata yang dikembangkannya itu juga melibatkan kontribusi masyarakat sekitar. Sebab, yayasan tersebut mendapat amanat dari institusi terkait untuk bisa mengembalikan kelompok mantan napiter ke dalam lingkungan masyarakat.
"Agrowisata ini paling banyak manfaatnya untuk yayasan dan kelompok masyarakat sekitar," kata Hendi dikutip dari kanal YouTube agromaritim.
Hendi yang juga mantan napiter ini mengatakan, Leuwi Pangaduan juga turut meningkatkan perekonomian warga. Di mana melalui agrowisata itu juga terdapat 16 lapak untuk UKM.
Dia menjelaskan, dari ke-16 lapak, 13 lapaknya diberikan kepada masyarakat, sementara sisanya dikelola oleh yayasan.
Adapun daya tarik yang bisa ditemui pengunjung di sini yaitu air terjun dengan pemandangan alam disekelilingnya. Berikut dengan spot foto
instagramable, seperti lorong jembatan dari bambu, gardu pandang, dan saung atau gazebo.
Baca juga: Dosen UGM Kembangkan Model Get & Go di Bumi Wisata Ngoro-oro![Agrowisata Leuwi Pangaduan Jadi Hidden Gem di Bogor]()
Selain itu, di tempat ini juga tersedia area kamping. Area ini khusus bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan Leuwi Pangaduan saat malam hari atau pun berkemah.
"Kalau pengunjung fluktuatif ya, karena wisata alam kalau cuaca sedang ekstrim bisa sangat sedikit yang datang, tapi biar bagaimana pun kami harus ada perawatan aset dan lain-lain," jelasnya.
Jika waktu normal, kata Hendi, Leuwi Pangaduan bisa menerima hingga rata-rata lima ribu pengunjung dalam sebulan. Sementara harga tiket, kini juga telah mengalami kenaikan.
"Awal itu kita cuma Rp15 ribu, tapi karena ada fasilitas yang kita bangun seperti jalan, parkiran, dan lainnya yang membutuhkan biaya, jadi untuk itu kita naikkan menjadi Rp30 ribu," jelasnya.
Baca juga: Liburan Keluarga, Inilah Pilihan Aktivitas Luar Ruangan Seru di SingapuraHendi berharap, melalaui kegiatan yang dijalankan Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19 itu, dapat meningkatkan hubungan sosial yang baik antara mantan napiter dengan masyarakat.
"Kita lebih mengutamakan masyarakat di sini. Karena dalam menjalankan program deradikalisasi ini, barometer keberhasilan kami adalah masyarakat bisa menerima keberadaan kami (mantan napiter)," tambahnya.
(zul)