LANGIT7.ID, Jakarta - Kontribusi Muhammadiyah dalam dunia pendidikan tidak bisa diragukan lagi. Namun, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP3M) PP Muhammadiyah, Maskuri, menilai pesantren Muhammadiyah secara kuantitatif masih sedikit.
Padahal, kata dia, pondok pesantren merupakan basis untuk melahirkan kader yang
tafaqquh fiddin. "Pesantren Muhammadiyah masih sedikit dan masih belum merata, belum terkelola secara profesional, belum menghasilkan lulusan dengan kualifikasi yang diharapkan dan belum didukung data yang akurat," kata Maskuri, dikutip laman Muhammadiyah, Kamis (13/1/2022).
Saat ini, kata Maskuri, data pesantren Muhammadiyah sebanyak 402 di seluruh di Indonesia. Capaian itu sudah menggembirakan, mengingat LP3M baru dibentuk pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 pada 2015 di Makassar.
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan amal usaha Muhammadiyah yang lain terutama dalam bidang pendidikan, jumlah pesantren masih terbilang minim. Dari 34 provinsi di Indonesia, pesantren Muhammadiyah hanya berdiri di 27 provinsi.
"Sementara sisanya di 7 provinsi seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua belum ada pesantren (Muhammadiyah) sama sekali. Saya kita ini PR," kata Maskuri.
Maskuri menjelaskan, tujuan pesantren Muhammadiyah adalah menyiapkan lulusan yang berkompeten menjadi kader ulama dan
zu'ama. minimal menjadi pendidik yang mampu berjuang dan berkontribusi positif bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara.
Di samping itu, mereka juga bisa memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kerukunan antar umat beragama, sekaligus menjadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis.
Profil lulusan pesantren Muhammadiyah harus bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia, berpikir maju, mampu membaca Al-Qur'an, memiliki hapalan minimal 5 juz, kepemimpinan, memiliki keterampilan sosial, mampu membaca turats, dan mahir berbahasa Arab dan Inggris.
Dalam jangka panjang, LP3M berharap hingga 2040 bisa mewujudkan pesantren Muhammadiyah yang bertata kelola profesional, modern, dan Islami. Pesantren itu melahirkan lulusan yang
tafaqquh fiddin.
"Menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi dan berwawasan internasional, dan secara kuantitatif bertambah serta merata di seluruh Indonesia," harap Maskuri.
(jqf)