Muhammadiyah tercatat sebagai organisasi Islam yang memiliki pesantren terbanyak di Indonesia. Hal ini berdasarkan laporan dari Lembanga Pengembangan Pesantren (LP2M) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada 2024.
Pesantren Muhammadiyah merupakan representasi gerakan modern dan gerakan tajdid. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan, tajdid memiliki dua pengertian yakni purifikasi dalam persoalan ibadah dan akidah serta dinamisasi dalam persoalan kehidupan duniawi.
Pada umumnya, pesantren lebih banyak fokus mengkaji ilmu agama Islam. Berbeda dengan SMA Muhammadiyah Pesantren Sains (Trensains) Sragen, Pesantren Sains pertama di Indonesia ini mengintegrasikan al-Quran dan Sains untuk melahirkan saintis muslim.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Ambo Asse, menyebut jumlah pondok pesantren di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Pada 2015 lalu, jumlah Pesantren Muhammadiyah hanya 19 pondok. Pada 2022 sudah ada 31 pondok pesantren.
Terkait dengan pembangunan gedung baru Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Haedar Nashir mengungkapkan keinginan Syafii Maarif agar Muallimin-Muallimat menjadi uswah hasanah bagi model pendidikan Islam.
Santri tidak terbatas kepada golongan atau ormas Islam tertentu. Santri bisa berasal dari berbagai afiliasi dan latar belakang. Salah satunya adalah santri yang mondok di pesantren Muhammadiyah. Adakah perbedaan antara santri dari Pesantren Muhammadiyah dengan santri pada umumnya?
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mendorong agar PP Muhammadiyah membuat rumusan otentik pesantren Muhammadiyah. Ini tak terlepas dari berbagai perbedaan di internal umat Islam, termasuk di tubuh Muhammadiyah.
Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, H. R. Alpha Amirrachman, mengungkapkan, PP Muhammadiyah saat ini sudah memiliki 27 ribu lebih amal usaha pendidikan, dari level PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).
Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, H. R. Alpha Amirrachman, mengungkapkan, orang tua bakal mendapat beberapa keunggulan jika menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Mudir Pondok Pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Boarding School (MBS) Cibiuk Garut, Ustadz Yanto Asyatibie, mengatakan, pondok pesantren dituntut menyiapkan desain pendidikan yang memiliki relevansi dengan tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat.