LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, mendorong agar PP Muhammadiyah membuat rumusan otentik pesantren Muhammadiyah. Ini tak terlepas dari berbagai perbedaan di internal umat Islam, termasuk di tubuh Muhammadiyah.
Perbedaan juga terjadi di model-model pesantren. Tak terkecuali pesantren yang berada di bawah naungan Muhammadiyah. Atas dasar itu, dia mengusulkan agar persyarikatan mencari titik temu dan model pesantren otentik Muhammadiyah.
“Kalau terlalu kencang, terlalu fokus pada perbedaan nanti tidak ada habisnya. Karena itu harus ada upaya untuk mencari titik temu dari berbagai macam perbedaan tersebut,” ucap Muhadjir dalam seminar Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan dan Tantangan Masa Depan yang diadakan UM Purwokerto, Sabtu (6/8/2022).
Baca Juga: Marak Muncul Pesantren Abal-abal, Majelis Masyayikh: Harus Dilawan
Muhadjir menuturkan, pesantren-pesantren yang dimiliki Muhammadiyah juga terdapat perbedaan dan varian. Maka itu, penting mencari titik temu atau model generic pesantren Muhammadiyah untuk diangkat menjadi bahan pemikiran.
“Kalau saya melihat itu bukan mazhab di Muhammadiyah, tetapi hanya varian-varian dan itu akan selalu terjadi,” kata Muhadjir.
Dia menyarankan, PP Muhammadiyah membangun gerakan yang sentripetal atau gerakan sentrifugal. Menurut dia, jika yang dikedepankan adalah pembangunan gerakan sentrifugal, maka titik temu bisa ditemukan. Itu karena perbedaan tidak akan ada habisnya.
Baca Juga: Alasan di Balik Pesatnya Pertumbuhan Pesantren Muhammadiyah
Di sisi lain, Muhadjir juga menyoroti perbedaan konseptual tentang sekolah, madrasah, dan pondok pesantren di Muhammadiyah. Dia menilai, konsep ketiga bentuk lembaga itu masih memiliki konfliktual.
Dia menjelaskan, merumuskan kompetensi atau keterampilan santri itu penting untuk dimiliki Muhammadiyah, sebab itu akan menjadi keunikan atau keunggulan santri lulusan pesantren Muhammadiyah dengan siswa lulusan sekolah atau madrasah Muhammadiyah.
Baca Juga: PWNU Soroti Fenomena Pesantren Megah tapi Miskin SpiritualMuhadjir juga menyoroti banyaknya pengajar atau ustadz yang mengajar di pesantren Muhammadiyah dengan berbagai maksud dan tujuan. Menurut dia, PP Muhammadiyah harus melakukan filtrasi bagi siapa saja yang ingin bergabung, sehingga standar minimum nilai Kemuhammadiyahan tetap terpenuhi.
“Mohon ini dirumuskan dengan cermat. Termasuk keterampilan-keterampilan dasar, kompetensi, dasar yang harus dimiliki oleh santri lulusan pondok pesantren Muhammadiyah,” pungkas Muhadjir.
(jqf)