LANGIT7.ID, Jakarta - Santri tidak terbatas kepada golongan atau ormas Islam tertentu. Santri bisa berasal dari berbagai afiliasi dan latar belakang. Salah satunya adalah santri yang mondok di
pesantren Muhammadiyah.
Sebagian besar pesantren yang berada di bawah naungan Muhammadiyah berjenis khalaf atau modern, bukan salaf. Dari cikal-bakal pendirian,
Pesantren Muhammadiyah ada yang berbentuk ‘pesantren yang ada sekolahnya’ dan ‘sekolah yang ada pesantrennya’.
Alumnus Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Ilham Ibrahim, menyebut setidaknya ada lima perbedaan santri Muhammadiyah dan santri-santri di pesantren lain.
Baca Juga: Menko PMK Dorong Perumusan Konsep Pesantren Otentik Muhammadiyah
Ilham pernah mengenyam pendidikan di tiga pesantren. Di antaranya adalah Ponpes Miftahul Ulum Muhammadiyah Cibiuk Garut, Ponpes Modern Darussalam Ciamis, dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah.
“Ketiganya relatif sama sebagaimana pesantren pada umumnya: mengajarkan kitab kuning dan hidup lingkungan di asrama. Tapi dari apa yang saya saksikan, santri Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah punya beberapa perbedaan yang cukup khas,” kata Ilham kepada Langit7.id, Sabtu (21/10/2022).
Berdasarkan pengalaman di tiga pesantren itu, Ilham mengurai empat perbedaan santri Muhammadiyah dengan pesantren lain.
Pertama, santri Muhammadiyah tidak merayakan Hari Santri di mana tidak ada upacara atau peringatan hari santri di pesantren Muhammadiyah. Kedua, santri Muhammadiyah tidak terlalu menganggap pimpinan pesantren memiliki karomah tertentu.
Baca Juga: Perkuat Kader Faqih, Muhammadiyah Perlu Perbanyak Pesantren
“Konsekuensinya: air bekas Kiai tidak perlu diminum karena memang tidak ada keberkahan di dalamnya,” ucap Ilham.
Ketiga, hormat pada pimpinan pesantren itu sewajarnya saja. Ilham menceritakan pengalamannya saat menjadi santri di Darussalam Ciamis. Dia dan santri-santri lain biasa menunduk malu dan mencium tangan kiai ketika bersalaman.
“Tapi pas mondok di PUTM, saat saya mau mencium tangan seorang ustaz, eh malah tangannya ditarik. Katanya, gak usah berlebihan,” kata Ilham.
Keempat, santri Muhammadiyah biasanya jarang bersarung. Sarung sebenarnya busana paling khas seorang santri, tapi santri Muhammadiyah kebanyakan malah lebih nyaman pakai celana panjang.
Baca Juga: 103 Tahun Muallimin Muhammadiyah Mengkader Ulama, Pemimpin dan Pendidik
Kelima, kurang akrab dengan budaya Shalawatan. Maksudnya, Shalawat, kata Ilham, nampaknya hanya diucapkan di upacara-upacara keagamaan formal, kayak di salat, khutbah jumat, kultum. Meski begitu, tak ikut menyalahkan tradisi demikian.
“Sebenarnya masih banyak lagi perbedaan-perbedaan detail tapi itu saja yang paling mencolok perbedaannya,” tutur Ilham.
Pesantren Muhammadiyah dilengkapi dengan Madrasah Diniyah (Madin). Pelajaran Madin dipisah dari kurikulum yang dirilis pemerintah. Selain Madin, Pesantren Muhammadiyah juga dilengkapi dengan Kemuhammadiyaan, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci.
Baca Juga: Pesantren Darul Arqam Garut, Pusat Kaderisasi Ulama Muhammadiyah
Ciri lain, pesantren Muhammadiyah memiliki panti asuhan. Panti asuhan itu memberi beasiswa bukan hanya memberi beasiswa bukan hanya bagi keluarga berlatar belakang Muhammadiyah, tapi juga bagi masyarakat umum.
Selain itu, di dalam area Pesantren Muhammadiyah tidak akan ditemukan area pemakaman pendiri dan keluarga pengasuh pesantren. Itu karena durasi kepemimpinan mudir dan pengasuh bersifat sementara.
(jqf)