LANGIT7.ID, Makassar - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Ambo Asse, menyebut jumlah pondok
pesantren di bawah naungan Muhammadiyah terus bertambah. Pada 2015 lalu, jumlah Pesantren Muhammadiyah hanya 19 pondok. Pada 2022 sudah ada 31 pondok pesantren.
Secara nasional, pesantren Muhammadiyah juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2015 pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia hanya 127. Dalam laporan Muktamar Muhammadiyah di Solo, Jawa Tengah, pesantren Muhammadiyah sudah mencapai 440. Artinya, ada peningkatan 350%.
Ambo Asse mengatakan, peningkatan jumlah pesantren merupakan salah satu fokus pengurus PWM Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Dia menyebut upaya tersebut membuahkan hasil yang baik, dan akan terus dikembangkan pada masa mendatang.
Baca Juga: Menko PMK Dorong Perumusan Konsep Pesantren Otentik Muhammadiyah
“Hasilnya, Alhamdulillah, di akhir periode Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel 2015-2020, yang diperpanjang hingga 2022, pondok pesantren kita yang di awal periode hanya 19, di akhir periode menjadi 31,” kata Ambo saat meresmikan Kemah Tahfidz dan Bahasa V Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Lapangan Pantai Seruni, Bantaeng, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Jumat (30/12/2022).
Ambo mengaku akan terus mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas pondok pesantren tersebut. Maka itu, dia meminta seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sulawesi Selatan untuk hadir dalam Kemah Tahfidz dan Bahasa tersebut.
“Ini upaya, dengan melihat ke-31 pesantren yang ada di Kemah Tahfidz ini, PDM yang belum punya pondok pesantren dan pondok tahfidz, tergerak hatinya untuk turut mendirikan dan membuka pondok-pondok tahfidz," kata Ambo.
Hal itu dilakukan demi memperkuat dan memantapkan generasi pelanjut Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Hal itu sejalan dengan visi yang terkandung dalam Surah An-Nisa ayat 9. Dalam ayat itu, Allah memerintahkan umat Islam meninggalkan keturunan yang bertakwa kepada-Nya.
Baca Juga: Ponpes Muhammadiyah Harus Persiapkan Diri Hadapi Perubahan Zaman
“Jangan sampai kita pergi meninggalkan dunia ini, sementara generasi pelanjut Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ternyata lemah. Maka, pondok-pondok pesantren Muhammadiyah, lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah harus diperkuat,” katanya.
Ambo menekankan perlunya penguatan pondok-pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Maka itu, Majelis Dikdasmen harus bergandengan tangan dengan Lembaga Pembinaan Pesantren Muhammadiyah.
“Keduanya berpasangan sebagai pengawal dan pendamping generasi bersama seluruh kepala-kepala sekolah, madrasah, para guru, dan ustadz-ustadzah,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Ketua LP2M PP Muhammadiyah, Qowaid, mengapresiasi pencapaian PWM Sulsel terkait hal tersebut. Bagi dia, LP2M Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel merupakan lembaga pengembangan pesantren terbaik se-Indonesia.
Baca Juga: Haedar Nashir Dorong Muallimin Muhammadiyah Jadi Model Pendidikan Islam
“Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan berperan besar bagi LP2M PWM ini, dan bagi kami, LP2M PWM Sul-Sel ini berperan besar terhadap perkembangan LP2M ini. LP2M berdiri dan diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015 lalu,” ucap Qowaid.
Profesor riset di Kementerian Agama RI itu mengaku bersyukur karena LP2M telah menunjukkan manfaat atas keberadaannya. Ini dapat dilihat pada peningkatan kuantitas dan kualitas pondok pesantren Muhammadiyah saat ini.
“Di Sulsel, luar biasa, dari 19 menjadi 31. Ternyata secara nasional juga. Pada 2015, pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia hanya 127. Setelah berdiri LP2M, laporan Muktamar kemarin, ada 440 pesantren, meningkat 350%,” ucapnya.
(jqf)