LANGIT7.ID, Jakarta - Mondok atau menimba ilmu di
Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan salah satu tradisi pendidikan di Indonesia. Namun, tidak semua pondok pesantren memberikan pengalaman yang sama bagi para santri.
Di Pondok Pesantren Muhammadiyah Sambak (PPMS), konsep nyantri seperti di rumah diusung sebagai salah satu upaya menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan bagi
santri.
PPMS merupakan pengembangan dari SMP
Muhammadiyah Sambak yang saat ini sudah bertransformasi menjadi SMP Muhammadiyah Plus Sambak. Ada empat keunggulan yang ditawarkan, yakni tahfidzul Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan kewirausahaan.
Baca Juga: Pj Bupati Cilacap Minta Pesantren Kembangkan Potensi PerikananMengutip dari laman resmi PPMS, Ahad (12/3/2023), pesantren ini terletak di Kec. Kajoran, Kab. Magelang, Jawa Tengah. Pengelola PPMS sengaja mendesain fasilitas juga lingkungan pondok terasa menyenangkan dan nyaman untuk ditempati para santri.
Misalnya dalam hal konsumsi keseharian para santri. Menu yang disajikan tidak asal-asalan, tapi didasari atas pertimbangan kebutuhan gizi dan nutrisi harian santri. Menu yang disajikan tetap mengutamakan rasa agar santri bisa lahap saat makan.
![Mondok Ala Pesantren Muhammadiyah, Nyantri Seperti di Rumah]()
Tempat tidur santri pun disiapkan dengan mempertimbangkan kenyamanan santri. Setiap kamar ditempat maksimal lima santri saja, sehingga privasi santri akan lebih terjaga dan tentu lebih tenang.
Demikian halnya dengan kamar mandi. Bila merujuk pada standar kesehatan lingkungan, setiap 15 santri harus tersedia satu kamar mandi.
Di PPMS sudah melebihi standar tersebut. Setiap lima anak tersedia satu kamar mandi atau toilet.
Baca Juga: Muhammadiyah Bikin Pondok Jadi Universitas, NU Bikin Universitas Jadi PondokKewirusahaan Jadi Program UnggulanRasulullah SAW adalah seorang pedagang sejak usia 12 tahun. Itu yang menjadi alasan PPMS menjadikan
kewirausahaan sebagai satu dari tiga program yang diunggulkan. Alasan kemandirian ekonomi juga sangat berpengaruh terhadap kemandirian berpikir.
Para santri diharapkan kelak tetap teguh di jalur idealismenya karena kehidupan ekonomi sudah tercukupi secara mandiri bahkan bisa menghidupi orang lain. Tapi, kewirausahaan bukan sekadar bicara tentang teknik atau teori memasarkan, melainkan tentang mental.
Maka itu, semakin dini anak diajari kewirausahaan, mental kewirausahaan mereka semakin kuat. Mental yang kokoh itu yang kelak akan membuat santri tahan banting serta mampu mengelola kegagalan menjadi kemenangan.
Antribully, antiintoleransi, dan antikekerasan seksualPPMS menerapkan program antibully, antiintoleransi, dan antikekerasan seksual, baik secara verbal maupun fisik. Terlebih, perundungan dapat mengakibatkan seseorang tidak nyaman, sakit hati, dan merasa tertekan.
Prinsip pengurus PPMS jelas dan tegas, tidak boleh ada perilaku perundungan, apalagi kekerasan oleh siapapun terhadap para santri. Pendekatan-pendekatan psikologis terhadap santri akan dilakukan, demi mewujudkan kondisi zero bullying, termasuk pencegahan tindak kekerasan seksual dan perilaku antitoleransi.
Baca Juga:
Untung Ada Pesantren, Benteng Moral Anak Bangsa
BUM-Pes Penanda Pesantren Tak Hanya Berperan sebagai Tafakufiddin(gar)