LANGIT7.ID, Jakarta -
Pesantren Muhammadiyah merupakan representasi gerakan modern dan gerakan tajdid. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan, tajdid memiliki dua pengertian yakni purifikasi dalam persoalan ibadah dan akidah serta dinamisasi dalam persoalan kehidupan duniawi.
Dengan dua pengertian tersebut, selain mengenalkan paham Islam yang pertengahan dan proporsional, Muhammadiyah juga berhasil menanamkan etos berpikir maju. Etos berpikir maju itu diaktualisasikan secara nyata dalam lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
Menurut Haedar, pesantren merupakan bagian dari tradisi besar yang dijalankan Muhammadiyah. Maka itu, pesantren tidak hanya identik dengan kelompok tradisionalis, tapi juga kelompok modernis. Muhammadiyah mengelola pesantren dengan mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum.
Baca Juga: Haedar Nashir Dorong Muallimin Muhammadiyah Jadi Model Pendidikan Islam
"Sebelum gerakan Muhammadiyah eksis di negeri ini, pesantren umumnya dimaknai sebagai tempat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan cenderung resisten dengan pendidikan modern,” kata Haedar, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (23/1/2023).
Integrasi ilmu agama dan ilmu umum dalam pesantren Muhammadiyah merupakan buah keberanian KH Ahmad Dahlan. Sebelum KH Ahmad Dahlan mereformasi pemikiran Islam, pesantren hanya berkutat dengan kitab kuning.
Melalui gerakan KH Ahmad Dahlan, citra pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama perlahan-lahan mulai memudar. Perjuangan Ahmad Dahlan ini tidak mudah hingga dicap sebagai kiai kafir.
Baca Juga: Jumlah Pesantren Muhammadiyah di Sulsel Meningkat 350%
"Banyak pesantren yang alergi, bahkan dianggap tasyabbuh ketika Kiai Dahlan menggunakan metode modern Barat dalam mengembangkan institusi pendidikan. Lebih dari itu, Dahlan dicap sebagai kiai kafir,” ucap Haedar.
Haedar menegaskan, pengembangan pesantren harus memiliki pondasi yang sejalan dengan pemikiran Muhammadiyah. Pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah memiliki satu ciri khas, yakni pendidikan yang holistik.
Artinya, kata dia, pendidikan mesti melakukan integrasi agama dengan segala aspek kehidupan. Lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah secara ideal juga harus menguasai keilmuan lebih di bidang agama maupun umum.
Baca Juga: Trensains Ajarkan Islam dan Sains dalam Satu Tarikan Nafas
“Biarpun kita mendirikan pesantren, jangan kembali ke
fi'il madhi (masa lalu), namun harus era
fi'il mudhari (saat ini dan masa depan). Pesantren harus disesuaikan dengan kebutuhan dengan ruang dan waktu,” ujar Haedar.
(jqf)