Puasa yang sebenarnya ialah membersihkan jiwa. Orang berpuasa diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas kehendak sendiri, supaya kebebasan kemauan dan kebebasan berpikirnya dapat diperoleh kembali.
Selama berpuasa Ramadhan, tubuh akan mengalami perubahan pola makan yang meliputi perubahan frekuensi makan yang semula tiga kali sehari berubah menjadi dua kali
Berpuasa selama Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi seluruh umat islam. Tak hanya mendatangkan keberkahan, berpuasa selama satu bulan juga memiliki banyak manfaat
Tips efektif mengendalikan nafsu makan saat berbuka puasa untuk menghindari masalah kesehatan. Mulai dari hidrasi yang cukup hingga aktivitas ringan setelah berbuka, simak cara menikmati berbuka puasa dengan sehat tanpa makan berlebihan.
Bahkan ulama-ulama Zhahiriyah dan Syi'ah mewajibkan berbuka, antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat di atas, yaitu: Fa 'iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain).
Salat Tarawih berkembang pada zaman khalifaur rasyidin. Pada era Khalifah Abu Bakar ra masih sebagaimana dipraktikkan Rasulullah SAW. Perubahan mulai terjadi di era Khalifah Umar bin Khattab.
Puasa itu ada dua: puasa lahir dan puasa batin. Puasa lahir sebatas menahan (dari lapar dan dahaga) dari segala sesuatu yang membatalkan disertai dengan niat.
Puasa harus benar-benar menjaga kualitas lahir maupun batin agar benar-benar dapat bersanding dengan al-Haqq. Selama hamba masih terkotori oleh selain Allah, ia tak pantas mendekat dan bersanding dengan-Nya.
Ia mewanti-wanti agar jangan sekadar menyebutkan Ramadan (tanpa bulan), tetapi hendaknya sematkan padanya kata bulan (syahr) sebagaimana Allah menyematkannya di dalam Al-Quran.
Imam al-Ghazalimembagi tiga tingkatan puasa yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat.
Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dari perkataan yang sia-sia, dusta, dan menyakiti orang lain. Puasa sejati adalah yang disertai dengan pengendalian diri.
Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa secara garis besar dapat dibagi dua: 1. Penderita tidak dapat berpuasa. 2. Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat keterlambatan penyembuhan, maka ia dianjurkan tidak berpuasa.