Keinginan Umar bin Khattab untuk mencabut gigi seri Suhail bin Amr menyingkap benturan antara kalkulasi keamanan taktis militer dan visi dakwah jangka panjang Nabi Muhammad pasca-Perang Badr.
Ketegasan Umar bin Khattab dalam menyikapi tawanan Perang Badar menyingkap batas tegas antara kalkulasi politik-ekonomi manusia dan visi kedaulatan ideologis yang kemudian dibenarkan oleh wahyu.
Keutamaan malaikat ternyata memiliki standar prestasi yang serupa dengan manusia. Keterlibatan dalam palagan Badar menempatkan sekelompok malaikat pada kasta tertinggi di antara pasukan cahaya lainnya.
Perang Uhud pada 17 Syawal tahun ke-3 Hijriah menjadi monumen pahit tentang kerapuhan sebuah barisan. Di balik gugurnya 70 syuhada, tersimpan pelajaran mahal mengenai harga sebuah ketidakpatuhan.
Di sebuah dangau kecil di pinggir medan Badar, Abu Bakr berdiri sebagai penjaga tunggal Rasulullah. Di saat doa nabi menggetarkan langit, kesetiaan Abu Bakr menjadi jangkar ketenangan di bumi.
Jin sering kali menampakkan diri di masa Rasulullah SAW. Kadangkala mereka tampil laiknya manusia. Hal ini terjadi, misalnya, pada saat awal Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul.
Dikisahnya, pada perang itu pekik Ahad... Ahad... Ahad... menjadi semboyan resmi pasukan Muslim. Pekik ini adalah teriakan Bilal bin Rabah tatkala ia disiksa kaum kafir Quraisy Makkah.
Kisah Sa'ad bin Muadz mengajarkan nilai kepahlawanan dalam Islam. Pemimpin Anshar ini masuk Islam usia 31 tahun, menjadi pembela utama Rasulullah di Perang Badar dan Khandaq. Wafat syahid dengan keistimewaan, makamnya mengeluarkan aroma kasturi dan mendapat doa khusus Rasulullah.