LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sudah sering dengar istilah jasa titip atau disingkat jastip? Siapa sangka jastip ini bisa jadi bisnis yang menjanjikan, keuntungannya tidak main-main dengan resiko usaha yang kecil.
Jasa titip atau jastip merupakan usahanya, sedangkan seseorang yang membuka layanan jastip dengan cara menawarkan untuk membeli dan mengirimkan produk kepada orang lain (requester) dikenal dengan sebutan jastiper.
Ada banyak hal yang bisa ditawarkan dalam usaha jastip ini. Namun yang paling umum jastip tas branded, produk beauty termasuk di dalamnya make-up, skincare, parfume, sepatu, dan baju.
Biasanya kebanyakan orang jastip dari sebuah event, misal ada seseorang yang tidak bisa atau tidak mau datang ke sebuah event pameran, bazar, dan expo namun menginginkan barang-barang yang ada di sana. Solusinya, pesan lewat jastiper. Event ini bisa dalam maupun luar negeri.
Baca juga:
Ramai Jastiper di Jakarta X Beauty, Borong Kosmetik hingga Puluhan JutaJenis jastip lainnya yaitu jastip barang-barang dari luar negeri. Misal ada seseorang yang berlibur ke luar negeri atau memang tinggal di sana dan akan pulang ke Tanah Air, mereka sengaja membuka jastip untuk siapa saja yang berminat. Soal barang yang dipesan, tergantung permintaan.
Salah satu jastiper bernama Latanza Shima mengaku bisnis ini seperti iseng-iseng tapi hasilnya memuaskan.
“Bisnis jastip itu modal cepet muter dan kita tidak perlu nyetok barang lama-lama. Jadi ada yang pesan, kita belanjain, terus malamnya ada admin saya nagih pembayaran. Besoknya saya kirim barang pakai ekspedisi,” ungkap perempuan yang akrab disapa Tanza saat ditemui di kawasan Senayan, beberapa hari lalu.
![Melirik Usaha Jastip yang Untungnya Tidak Main-Main]()
Anindita, salah satu jastiper.Foto/Lusi M
Tanza tidak sendiri dalam menjalani usaha jastip yang diberi nama di instagram @jastiputanza ini, melainkan bersama teman semasa kuliahnya dulu, Putri.
Keuntungan yang didapat dari usaha jastip berasal dari ongkos titip per barang yang dikenakan kepada pemesan, disesuaikan dengan harga barang yang dititip. Misalnya untuk barang seharga maksimal Rp20.000 ongkos jastip sebesar Rp3.000 per item; harga barang Rp.21.000-Rp49.000 ongkos jastip Rp5.000 per item; dan harga barang Rp50.000-Rp.99.000 ongkos jastip Rp10.000 per item, begitu seterusnya. Jadi bisa disimpulkan ongkos jastip sekira 10 persen dari harga barang.
Namun ongkos jastip tersebut berbeda untuk barang yang dirasa bulky, yakni kecil tapi berat atau barang ringan namun bentuknya besar. Dikenakan harga khusus untuk ini. Tanza menambahkan, ongkos titip yang sudah ditetapkan belum termasuk ongkos kirim.
Tanza yang sehari-hari bekerja sebagai staff ahli di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI itu menjadikan jastip sebagai usaha sampingan. Dia mengkhususkan jastipnya saat ada event saja. Seperti Jakarta X Beauty, Imobi, pameran buku dan sebagainya.
Demi menjalani bisnis sampingannya, ia sengaja mengambil cuti dari kantor untuk datang ke event-event yang ada.
Selain ongkos jastip terkadang jastiper juga mendapat keuntungan dari brand produk yang mereka beli.
“Untuk jastiper suka ada keuntungan dari brand tertentu, misal harga normal Rp15.000 tapi dijual ke jastiper Rp10.000. Juga ada beberapa brand yang kasih benefit kayak free produk nah free produk ini bisa aku jual lagi,” sambungnya.
Hit and Run Requester
Menjalani usaha jastip bagi Tanza seakan melampiaskan hobi belanjanya tanpa menguras kantong, melainkan justru menghasilkan keuntungan besar. Untuk satu event yang disambanginya, Tanza mengaku bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp6 juta.
“Paling enak jastip kosmetik karena lebih ringan, kecil jadi bisa banyak sekali belanja. Satu koper bisa dapat banyak. Meski saya belanja banyak pakai uang sendiri dulu dan akan balik setelah pemesan bayar, tapi ini resikonya kecil banget,” tutur Tanza.
Resiko yang dimaksud yakni ada pemesan yang sudah pesan namun saat ditagih dia tidak respons. Ini dikenal dengan istilah hit and run. “Kalau sudah begitu biasanya barang pesanannya dijual saja, ditawarkan di grup (Whatsapp, red) jastip atau di grup sesama jastiper ditawarkan. Dan itu biasanya kecil nilainya jadi saya nggak rugi.”
Jastip & Biaya Nikah
Berbeda cerita dengan Anindita, jastiper lainnya. Ia mengkhususkan diri hanya menerima jastip untuk produk beauty dan perfume.
Ia sudah menjalani bisnis jastip sejak beberapa tahun belakangan. Bahkan Anin, sapaan akrabnya, mengaku dari keuntungan bisnis ini mampu menambah biaya resepsi pernikahannya.
“Sejujurnya tahun lalu saya buka jastip untuk nambah biaya pernikahan, dan ternyata hasilnya bisa untuk nambah satu gubuk (booth makanan, red) di pesta pernikahan saya,” ungkapnya.
Bahkan perempuan yang juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah rumah sakit ini menambahkan, keuntungan dari jastip satu event saja bisa melebihi gaji pokok yang ia terima selama satu bulan bekerja.
Jastip di Anin tak hanya menitip dibelikan barang yang diinginkan saja, tapi juga bisa meminta saran dan masukan tentang produk kecantikan yang dibutuhkan. “Sebab nggak semua kan tahu produk jadi biasanya saya tanya ‘kamu maunya produk untuk apa dan bagaimana?’. Dari situ saya kasih masukan baiknya pakai ini atau itu, gitu.”
Untuk membuka pesanan maupun terima pesanan jastip, Anin tidak memiliki social media khusus melainkan hanya mengandalkan group Whatsapp atau whatsapp pribadinya dan Instagram pribadi.
Lantas berapa ongkos jastip yang Anin kenakan ke requester-nya? “Per item Rp10 ribu. Kalau untuk yang kecil kayak lipstick, maskara dan sebagainya biasanya Rp5 ribu, itu juga sudah untung karena tidak makan tempat,” jelas Anin.
Namun untuk untuk barang dengan volume besar seperti tas makeup, parfum dengan botol beling bisa di atas Rp15 ribu per item.
Anin mengaku selama menjalani bisnis jastip, dirinya tidak mengalami kendala atau duka apapun. “Happy aja ngejalaninnya, karena suka,” tutupnya
(ori)