LANGIT7.ID–Jakarta; Setelah suksesnya penyelenggaraan Seri 1, MilkLife Soccer Challenge (MLSC) bersiap melanjutkan kompetisinya ke Seri 2 musim 2025–2026. Mulai Januari 2026, turnamen sepak bola putri terbesar di tingkat sekolah dasar ini kembali menargetkan 10 kota, yaitu Kudus, Semarang, Surabaya, Tangerang, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Bekasi, dan Malang. Seri lanjutan ini menjadi momentum penting bagi para siswi untuk kembali menunjukkan perkembangan teknik, mental, dan pemahaman taktik yang telah dibangun sepanjang musim.
Para pemain terpilih dari masing-masing kota nantinya akan menjalani program khusus MilkLife Soccer Extra Training. Program ini dirancang untuk memberikan pembinaan intensif sebelum mereka turun pada ajang bergengsi MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025–2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Setiap kota akan mengirimkan pemain terbaiknya untuk memperebutkan gelar juara nasional dalam atmosfer persaingan yang diperkirakan semakin ketat.
Senior Brand Executive MilkLife, Wisnu Renggo Pambudi, menegaskan bahwa dukungan MilkLife terhadap MLSC adalah bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendorong gaya hidup sehat bagi anak-anak Indonesia. Ia melihat tren meningkatnya minat siswi terhadap sepak bola sebagai perkembangan positif yang selaras dengan visi kesehatan anak usia sekolah.
Baca juga: MLSC Seri 1 2025/2026 Catat 17.365 Peserta, Minat Sepak Bola Putri Meningkat Drastis“Kami bangga dengan semangat para siswi di 10 kota penyelenggaraan dan melihat sendiri bagaimana para siswi bermain penuh keceriaan serta keberanian. Itu adalah gambaran dari anak-anak yang sehat, aktif, dan percaya diri, nilai yang juga menjadi spirit MilkLife. Kami yakin pembinaan usia dini harus dilengkapi dengan nutrisi yang baik. Karena itu kami terus mendukung mereka agar semakin kuat, berani, dan siap menunjukkan kemampuan terbaik di lapangan,” ujar Wisnu dalam keterangan resmi, dikutip Senin (24/11/2025).
Pada penyelenggaraan Seri 2 nanti, terdapat penyesuaian penting terkait kalender akademik. Jadwal pertandingan digeser agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah dan masa-masa ujian. Langkah ini diambil setelah pada musim 2024 sempat terjadi kasus di mana beberapa siswi yang telah terpilih tidak dapat mengikuti All-Stars karena bersamaan dengan agenda akademik di sekolah mereka.
“Berkaca dari pengalaman MilkLife Soccer Challenge 2024, terjadi situasi di mana siswi-siswi yang sudah terpilih di kota masing-masing tapi ternyata tidak bisa ikut bermain di All-Star karena terkendala dengan kalender akademik. Faktor itu membuat kami melakukan penyesuaian jadwal penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge 2025–2026 berjalan beriringan dengan kalender akademik dan masa libur Lebaran. Perubahan tersebut dimaksudkan agar partisipasi peserta dapat dimaksimalkan. Semua sudah kami perhitungkan termasuk persiapan All-Star di bulan Juni,” ujar Program Director MLSC, Teddy Tjahjono.
Musim ini juga menghadirkan perubahan teknis yang cukup signifikan pada format pertandingan All-Stars. Jika sebelumnya All-Stars menggunakan format 7 vs 7, kini seluruh pertandingan akan digelar dengan format 9 vs 9. Perubahan ini sudah diterapkan sejak Extra Training agar para pemain dapat beradaptasi secara optimal sebelum menjalani laga bergengsi.
Baca juga: Jakarta Tutup Seri 1 MLSC 2025/2026 dengan Rekor Peserta 2.708 dan Dua Juara BaruTimo Scheunemann, Head Coach MLSC, menilai perubahan format tersebut membuat persaingan All-Stars semakin ketat. Kompetisi pun akan lebih menarik karena setiap kota memiliki persiapan yang lebih matang dan karakter permainan yang semakin beragam.
“Saya melihat peningkatan yang sangat terasa di aspek teknik dasar, pemahaman taktik, dan mental bertanding. Sehingga persaingan di All-Star nanti juga pasti akan lebih ketat karena setiap kota memiliki waktu persiapan yang cukup dan kualitas di setiap kota terus mengalami peningkatan sehingga peluang menjadi juara cenderung berimbang. Setiap kota membawa karakter permainan masing-masing, dan itulah yang membuat MLSC selalu menarik,” tuturnya.
Timo juga menambahkan bahwa format 9 vs 9 sengaja diterapkan untuk mempersiapkan para atlet menghadapi kompetisi level lebih tinggi, seperti Hydroplus Soccer League dan Pertiwi Cup yang mengadopsi sistem serupa. Dengan bekal ini, para pemain diharapkan dapat semakin siap saat memasuki jenjang kompetisi berikutnya.
Penyelenggaraan MLSC Seri 2 dan All-Stars 2025–2026 pun menjadi lanjutan dari upaya besar untuk memperkuat pembinaan sepak bola putri sejak usia dini. Dengan dukungan nutrisi, pelatihan berkelanjutan, jadwal yang adaptif, serta format pertandingan yang lebih menantang, turnamen ini berharap melahirkan generasi pesepak bola putri yang lebih matang dan siap bersaing di level nasional maupun internasional.
(lam)