Usaha Tak Khianati Hasil, Ini Rahasia Soto Angkring Mas Boed Tetap Eksis
Fifiyanti Abdurahman
Sabtu, 15 Januari 2022 - 08:17 WIB
Eksistensi kuliner tradisional Soto Angkring Mas Boed di Semarang. Foto: Istimewa
Bumi Indonesia sangat berlimpah kisah kekayaan kuliner Nusantara. Mulai dari makanan asli daerah hingga sejumlah inovasi kuliner yang mengembangkan dari resep asli yang ada.
Seperti di salah satu sudut Kota Semarang yang menyimpan kekayaan kuliner yang mampu menarik wisatawan seperti Lumpia Semarang, wingko babat, lapis legit, dan Soto Semarang, memiliki banyak sekali bisnis yang sudah terkenal kelezatannya.
Berbicara soal panganan khas Semarang yang melegenda, Soto Angkring Mas Boed patut disorot sebagai kuliner yang sudah dikenal luas sejak belasan tahun silam.
Baca juga: Petani Subang Ini Sukses Budi Daya Ikan Nila Sistem Air Deras
Berawal dengan cara sederhana dari teras rumah Djoko Boediono pada 11 Maret 2006. Bersama istri, Boediono menawarkan kelezatan soto dengan harga yang terjangkau. Usaha soto Mas Boed pun perlahan berkembang dimana tiga tahun setelahnya ia berpindah ke lokasi yang lebih luas di wilayah Banyumanik.
Pepatah ‘usaha tidak menghianati hasil’ pun dirasakan Djoko, karena bisnisnya berhasil menarik banyak langganan dari Semarang dan juga luar kota yang mendukung keberlangsungan bisnis kulinernya dari tahun ke tahun.
Di era sebelum tersedianya media sosial seperti sekarang, Djoko kerap mempromosikan usahanya dengan selembaran yang kemudian ditempelkan di pohon-pohon di area sekitar lokasi bisnisnya. Kemudian ketika pelanggan datang, kualitas soto yang dihidangkanlah yang kemudian membawa mereka untuk kembali lagi.
Seperti di salah satu sudut Kota Semarang yang menyimpan kekayaan kuliner yang mampu menarik wisatawan seperti Lumpia Semarang, wingko babat, lapis legit, dan Soto Semarang, memiliki banyak sekali bisnis yang sudah terkenal kelezatannya.
Berbicara soal panganan khas Semarang yang melegenda, Soto Angkring Mas Boed patut disorot sebagai kuliner yang sudah dikenal luas sejak belasan tahun silam.
Baca juga: Petani Subang Ini Sukses Budi Daya Ikan Nila Sistem Air Deras
Berawal dengan cara sederhana dari teras rumah Djoko Boediono pada 11 Maret 2006. Bersama istri, Boediono menawarkan kelezatan soto dengan harga yang terjangkau. Usaha soto Mas Boed pun perlahan berkembang dimana tiga tahun setelahnya ia berpindah ke lokasi yang lebih luas di wilayah Banyumanik.
Pepatah ‘usaha tidak menghianati hasil’ pun dirasakan Djoko, karena bisnisnya berhasil menarik banyak langganan dari Semarang dan juga luar kota yang mendukung keberlangsungan bisnis kulinernya dari tahun ke tahun.
Di era sebelum tersedianya media sosial seperti sekarang, Djoko kerap mempromosikan usahanya dengan selembaran yang kemudian ditempelkan di pohon-pohon di area sekitar lokasi bisnisnya. Kemudian ketika pelanggan datang, kualitas soto yang dihidangkanlah yang kemudian membawa mereka untuk kembali lagi.