Muhammadiyah Dirikan Wasola di Malaysia, Bukan Sekedar Bisnis Tapi Diplomasi Kuliner
Mahmuda attar hussein
Senin, 24 Januari 2022 - 08:05 WIB
Ilustrasi warung soto Lamongan milik Muhammadiyah di Malaysia. Foto: Langit7/Istock
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia membuka Warung Soto Lamongan (Wasola). Langkah ini, tidak hanya membawa misi kemuhammadiyahan, melainkan juga misi pengenalan kebudayaan Indonesia ke luar negeri. Keberadaan lini bisnis yang dimiliki Muhammadiyah juga sebagai alat diplomasi.
Fauzi Fatkhur, Ketua Majelis Ekonomi (MEK) PCIM Malaysia menuturkan, gerakan ekonomi yang dilakukan oleh PCIM Malaysia ditopang bersama atau secara berjamaah membawa misi pengenalan kuliner khas Indonesia. Berdirinya Wasola tidak bisa dilepaskan dari peran Pekerja Migran Indonesia (PMI) anggota Muhammadiyah.
“Kelebihan gerakan ekonomi jamaah yang dilakukan oleh PCIM Malaysia ini berdampak positif, meski dengan modal yang tidak seberapa akan tetapi mampu merealisasikan Wasola,” ujar Fauzi, seperti dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (24/1).
Baca juga: Dukung Program Kesehatan Masyarakat, Kapolri Hadiri Ground Breaking RS Muhammadiyah
Sambutan positif juga datang dari Atase Politik KBRI Kuala Lumpur, Agus Badrul Jamal. Keberadaan Wasola menurutnya sebagai pemacu semangat wirausaha para PMI, serta menjadi sarana wisata kuliner dan diplomasi kuliner di Malaysia.
“Hari ini sama-sama kita saksikan bagaimana PCIM menggerakkan perekonomian dalam bidang ekonomi. Kami dari KBRI Kuala Lumpur menyambut baik inisiatif dan usaha-usaha yang dirintis Muhammadiyah dalam rangka membantu menggerakkan roda perekonomian Muhammadiyah,” katanya.
Kini meski pelan, Wasola tetap bisa berjalan untuk memenuhi kerinduan WNI akan cita rasa nusantara. Wasola kini setiap harinya berhasil memperoleh pendapatan lebih dari RM1000 atau lebih dari Tiga Juta Rupiah tiap harinya. Pendapatan itu akan naik ketika di akhir pekan, kenaikannya bisa sampai tiga kali lipat.
Fauzi Fatkhur, Ketua Majelis Ekonomi (MEK) PCIM Malaysia menuturkan, gerakan ekonomi yang dilakukan oleh PCIM Malaysia ditopang bersama atau secara berjamaah membawa misi pengenalan kuliner khas Indonesia. Berdirinya Wasola tidak bisa dilepaskan dari peran Pekerja Migran Indonesia (PMI) anggota Muhammadiyah.
“Kelebihan gerakan ekonomi jamaah yang dilakukan oleh PCIM Malaysia ini berdampak positif, meski dengan modal yang tidak seberapa akan tetapi mampu merealisasikan Wasola,” ujar Fauzi, seperti dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (24/1).
Baca juga: Dukung Program Kesehatan Masyarakat, Kapolri Hadiri Ground Breaking RS Muhammadiyah
Sambutan positif juga datang dari Atase Politik KBRI Kuala Lumpur, Agus Badrul Jamal. Keberadaan Wasola menurutnya sebagai pemacu semangat wirausaha para PMI, serta menjadi sarana wisata kuliner dan diplomasi kuliner di Malaysia.
“Hari ini sama-sama kita saksikan bagaimana PCIM menggerakkan perekonomian dalam bidang ekonomi. Kami dari KBRI Kuala Lumpur menyambut baik inisiatif dan usaha-usaha yang dirintis Muhammadiyah dalam rangka membantu menggerakkan roda perekonomian Muhammadiyah,” katanya.
Kini meski pelan, Wasola tetap bisa berjalan untuk memenuhi kerinduan WNI akan cita rasa nusantara. Wasola kini setiap harinya berhasil memperoleh pendapatan lebih dari RM1000 atau lebih dari Tiga Juta Rupiah tiap harinya. Pendapatan itu akan naik ketika di akhir pekan, kenaikannya bisa sampai tiga kali lipat.