Upaya Universitas di Suriah Bangkit di Tengah Kecamuk Perang Saudara
Muhajirin
Senin, 24 Januari 2022 - 09:12 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Sudah 10 tahun lebih perang saudara terjadi di Suriah. Setengah penduduk Suriah terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sistem pendidikan tinggi pun ikut amburadul.
Universitas-universitas berupaya bangkit di tengah kecamuk perang saudara, termasuk Universitas di Suriah yang kini menghadapi segudang tantangan. Bangunan dan ruangan kelas tak layak, kurikulum ketinggalan zaman, staf pengajar tak memenuhi syarat, tidak ada sumber daya penelitian dan kebebasan akademik, ketidakamanan, hingga kekurangan dana.
Sulaiman Mouselli, seorang profesor keuangan di Universitas Internasional Arab di Daraa, di Suriah selatan, mencatat, meski ada konflik, jumlah mahasiswa di Suriah pada 2017 mencapai setengah juta orang, 8.800 anggota staf akademik termasuk administrator.
“Tantangan akibat perang banyak sekali baik di universitas negeri maupun swasta. Mulai dari digitalisasi infrastruktur yang lemah, kualitas pendidikan yang rendah, metode pengajaran yang ketinggalan zaman, kurangnya keterampilan digital, menguras otak staf akademik karena pendapatan rendah, dan ketidakstabilan dan pendanaan yang buruk," kata Mouselli, dikutip laman al-fanarmedia, Senin (24/1/2022).
Situasi itu memaksa banyak pelajar mencoba mengejar ketertinggalan dengan belajar mandiri dan kursus online gratis.
“Situasi yang memburuk memaksa banyak siswa untuk mencoba mengejar ketinggalan dan belajar sendiri melalui sumber terbuka dan kursus onlinegratis,” tambah Mouselli.
Sekolah dan Universitas Jadi Sasaran Konflik
Universitas-universitas berupaya bangkit di tengah kecamuk perang saudara, termasuk Universitas di Suriah yang kini menghadapi segudang tantangan. Bangunan dan ruangan kelas tak layak, kurikulum ketinggalan zaman, staf pengajar tak memenuhi syarat, tidak ada sumber daya penelitian dan kebebasan akademik, ketidakamanan, hingga kekurangan dana.
Sulaiman Mouselli, seorang profesor keuangan di Universitas Internasional Arab di Daraa, di Suriah selatan, mencatat, meski ada konflik, jumlah mahasiswa di Suriah pada 2017 mencapai setengah juta orang, 8.800 anggota staf akademik termasuk administrator.
“Tantangan akibat perang banyak sekali baik di universitas negeri maupun swasta. Mulai dari digitalisasi infrastruktur yang lemah, kualitas pendidikan yang rendah, metode pengajaran yang ketinggalan zaman, kurangnya keterampilan digital, menguras otak staf akademik karena pendapatan rendah, dan ketidakstabilan dan pendanaan yang buruk," kata Mouselli, dikutip laman al-fanarmedia, Senin (24/1/2022).
Situasi itu memaksa banyak pelajar mencoba mengejar ketertinggalan dengan belajar mandiri dan kursus online gratis.
“Situasi yang memburuk memaksa banyak siswa untuk mencoba mengejar ketinggalan dan belajar sendiri melalui sumber terbuka dan kursus onlinegratis,” tambah Mouselli.
Sekolah dan Universitas Jadi Sasaran Konflik