home global news

Umat Islam Mau Tak Mau Harus Bersiap Masuki Metaverse

Kamis, 27 Januari 2022 - 21:05 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Berdasarkan buku The Globotics Upheaval: Globalization, Robotics and the Future of Work karya Richard Baldwin. Masa depan tidak dapat diketahui, tetapi juga tak terhindarkan, termasuk dengan hadirnya konsep realitas virtual metaverse.

“Semua orang pasti menghadapinya, termasuk umat Islam. Terkait hal ini, tidak ada yang bisa dilakukan Umat Islam kecuali mempersiapkan diri,” kata Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Askar Muhammad, dikutip Kamis (27/1/2022).

Ke depannya, di dalam buku itu, dunia akan menghadapi Globotics, yaitu Globalization dan Robotics. Di mana, dalam konteks ini "Metaverse", Globalization mencakup fenomena Telemigrants.

Baca Juga:Bagaimana Ekonomi Syariah Dapat Terwujud di Metaverse, Ini Kata Peneliti

Askar menjelaskan, telemigrants atau bisa juga disebut Remote Intellegence (RI) adalah migrasi tenaga kerja secara virtual. Hal ini terjadi karena adanya tingkat perbedaan upah antara satu negara dengan negara lain.

“Jika sebelumnya migrasi tenaga kerja terjadi secara fisik, seorang tenaga kerja migran harus berpindah secara fisik melewati batas negara, ke depannya migrasi tenaga kerja dapat dilakukan secara virtual, sesederhana melalui telepon,” ujarnya.

Menurut Peneliti Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), pandemi Covid-19 mempercepat peralihan ke dunia digital. Di negara maju, terutama dengan berdirinya banyak situs-situs lowongan pekerjaan freelance, tidak sedikit perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja dari negara berkembang secara virtual.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
metaverse teknologi digital
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya