LANGIT7.ID, Jakarta - Berdasarkan buku The Globotics Upheaval: Globalization, Robotics and the Future of Work karya Richard Baldwin. Masa depan tidak dapat diketahui, tetapi juga tak terhindarkan, termasuk dengan hadirnya konsep realitas virtual metaverse.
“Semua orang pasti menghadapinya, termasuk umat Islam. Terkait hal ini, tidak ada yang bisa dilakukan Umat Islam kecuali mempersiapkan diri,” kata Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Askar Muhammad, dikutip Kamis (27/1/2022).
Ke depannya, di dalam buku itu, dunia akan menghadapi Globotics, yaitu Globalization dan Robotics. Di mana, dalam konteks ini "Metaverse", Globalization mencakup fenomena Telemigrants.
Baca Juga: Bagaimana Ekonomi Syariah Dapat Terwujud di Metaverse, Ini Kata PenelitiAskar menjelaskan, telemigrants atau bisa juga disebut Remote Intellegence (RI) adalah migrasi tenaga kerja secara virtual. Hal ini terjadi karena adanya tingkat perbedaan upah antara satu negara dengan negara lain.
“Jika sebelumnya migrasi tenaga kerja terjadi secara fisik, seorang tenaga kerja migran harus berpindah secara fisik melewati batas negara, ke depannya migrasi tenaga kerja dapat dilakukan secara virtual, sesederhana melalui telepon,” ujarnya.
Menurut Peneliti Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), pandemi Covid-19 mempercepat peralihan ke dunia digital. Di negara maju, terutama dengan berdirinya banyak situs-situs lowongan pekerjaan freelance, tidak sedikit perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja dari negara berkembang secara virtual.
Baca Juga: Sambut Metaverse, Perusahaan Indonesia WIR Group Curi Start“Salah satu penyebab utamanya adalah, tadi, perbedaan tingkat upah. Di negara berkembang, pada umumnya, tingkat upahnya lebih rendah daripada upah yang ditawarkan di negara maju,” imbuhnya.
Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang seharusnya bisa memanfaatkan potensi ini. Adapun umat Islam, sebagaimana umat manusia secara umum, mau tidak mau harus bersiap.
“Kita harus mempersiapkan diri mempelajari keterampilan-keterampillan yang dibutuhkan di negara maju agar tidak tertinggal. Keterampilan yang harus dipelajari adalah keterampilan-keterampilan yang memiliki kemungkinan kecil untuk diotomatisasi,” tuturnya.
Baca Juga: Pasangan India Rencanakan Pernikahan Pertama di Metaverse(zhd)