LANGIT7.ID-Jakarta; Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya kembali mencatatkan prestasi melalui lima mahasiswanya yang berhasil lolos dalam program Google Student Ambassador (GSA) pada tahun 2025 hingga 2026.
Mereka adalah M. Alif Al Banna Amzar (Ilmu Komunikasi), Diva Elvia Puspa Ayu (Ilmu Pemerintahan), Siti Ni’mah Milly Otolomo (Hubungan Internasional), Muhammad Gathfansyah (Sosiologi), serta Muhammad Alfarizi (Sosiologi).
Perjalanan mereka menuju GSA berangkat dari cerita yang berbeda, namun memiliki semangat yang sama. Alif Al Banna Amzar mengaku awalnya terinspirasi dari relasi yang lebih dulu bergabung.
“Melihat dampak dan peluang yang ada, saya merasakan dorongan positif untuk ikut serta. Bagi saya, ini jadi pijakan untuk berkembang lebih jauh di masa depan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (22/4/2026).
Dalam proses seleksi, Alif menekankan pentingnya keaslian dalam menyampaikan diri. Selain itu, ia rasa pengalamannya di bidang pengabdian masyarakat, audio visual, dan branding sosial dapat menjadi nilai tambah yang membantunya lolos sebagai GSA.
Hal serupa dirasakan oleh Diva Elvia Puspa Ayu. Berawal dari rasa penasaran setelah melihat aktivitas kakak tingkatnya, ia justru menemukan ruang baru untuk berkembang.
"GSA ini jadi ruang yang mendorong aku keluar dari zona nyaman dan melihat teknologi sebagai sesuatu yang dekat, relevan, dan bisa kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Dalam persiapannya, Diva berfokus pada pengembangan diri, mulai dari membangun personal branding di media sosial hingga melatih kemampuan komunikasi dan editing. Ia juga berusaha memahami kebutuhan mahasiswa agar dapat menghadirkan program yang tepat sasaran.
Tidak semua perjalanan berjalan mulus. Milly mengaku sempat muncul rasa minder saat melihat banyaknya pendaftar lain yang berprestasi. Namun, ia memilih untuk tetap melangkah.
"Minder dan tidak percaya diri memang ada dan mungkin akan selalu ada. Di situlah langkah kita ditentukan, apakah kita memilih berhenti atau terus exploring the untrodden path," ungkapnya.
Sementara itu, Muhammad Gathfansyah menyoroti program ini sebagai ruang untuk menjembatani teknologi dengan masyarakat. Ia menekankan bahwa teknologi perlu disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.
"AI itu bukan buat gantiin peran kita, tapi justru sebagai alat bantu untuk brainstorming," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa menjaga konsistensi selama program berlangsung menjadi tantangan tersendiri, terutama saat harus membagi waktu dengan tanggung jawab akademik.
Sementara bagi Muhammad Alfarizi, kesempatan ini tidak hanya memberikan pengalaman, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan pengembangan diri.
"Yang penting bukan cuma pengalaman, tapi juga dampak yang bisa diberikan,".
Kisah kelima mahasiswa ini menunjukkan bahwa latar belakang ilmu sosial bukanlah batasan untuk terlibat dalam dunia teknologi. Justru, kemampuan komunikasi dan pemahaman sosial yang dimiliki mahasiswa FISIP menjadi kekuatan dalam menjembatani teknologi agar lebih mudah dipahami dan relevan bagi mahasiswa lainnya.
Dekan FISIP UB, Dr Ahmad Imron Rozuli SE., M.Si mengungkapkan keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa FISIP yang lain untuk berani mencoba peluang baru, terus belajar, dan mengambil peran dalam perkembangan teknologi di era digital.
(lam)