LANGIT7.ID-Jakarta; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat sistem pengawasan pangan nasional melalui pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan analisis ilmiah tingkat lanjut. Langkah ini ditempuh untuk mengungkap berbagai praktik kecurangan pangan yang selama ini sulit dideteksi dengan metode konvensional.
Melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), BRIN mengembangkan sejumlah metode yang mampu mengidentifikasi pemalsuan, pencampuran bahan, hingga pelabelan palsu pada berbagai produk pangan yang beredar di masyarakat.
Peneliti PRTPP BRIN, Laila Rahmawati, menjelaskan bahwa pendekatan terbaru yang dikembangkan lembaganya memanfaatkan teknologi machine learning untuk mempercepat proses identifikasi penyimpangan pada produk pangan.
“Dengan AI, kami bisa membangun database referensi ribuan sampel pangan. Ketika ada produk baru, sistem bisa membandingkan pola kimianya secara real-time dan memberi peringatan jika ada penyimpangan,” jelas Laila dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN menghadapi praktik food fraud atau manipulasi pangan yang dilakukan secara sengaja demi memperoleh keuntungan ekonomi. Menurut Laila, persoalan ini telah berkembang menjadi ancaman sistemik karena tidak hanya merugikan konsumen dari sisi ekonomi, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan, melanggar prinsip kehalalan, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri pangan.
Sejumlah kasus yang kerap ditemukan meliputi madu yang dicampur sirup gula, kopi murni yang dicampur biji jagung atau kedelai, daging non-halal yang disamarkan sebagai daging sapi, hingga minyak goreng yang dipalsukan menggunakan campuran lemak murah.
Untuk mengidentifikasi berbagai bentuk kecurangan tersebut, BRIN mengombinasikan metode konvensional dengan teknologi analisis modern. Uji organoleptik dan pengujian kimia dasar masih digunakan sebagai tahap awal pemeriksaan. Namun, fokus riset kini diarahkan pada pemanfaatan instrumen berteknologi tinggi.
Beberapa teknologi yang digunakan antara lain kromatografi cair beresolusi tinggi (LC-HRMS), spektroskopi FTIR, kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), serta DNA barcoding. Melalui teknologi tersebut, peneliti dapat menelusuri komposisi molekuler hingga tingkat genetik suatu produk pangan.
Kemampuan tersebut memungkinkan identifikasi yang lebih akurat, termasuk membedakan daging sapi dengan daging babi maupun kambing hanya dari sampel dalam jumlah kecil.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan pendekatan metabolomik tak terarah (untargeted metabolomics) yang mampu mengungkap pola kimia khas dari setiap produk pangan. Pendekatan ini menjadi pelengkap penting dalam mendeteksi adanya kontaminasi maupun pemalsuan yang sulit dikenali secara kasat mata.
Laila menjelaskan bahwa praktik food fraud dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tingginya margin keuntungan, mahalnya bahan baku asli, meningkatnya permintaan pasar, panjangnya rantai distribusi, hingga lemahnya pengawasan serta rendahnya kesadaran konsumen.
“Banyak masyarakat yang tergiur harga murah tanpa memeriksa sertifikasi atau label resmi. Padahal, di balik harga yang terlalu rendah, sering kali tersembunyi risiko kesehatan yang tak terduga,” ujarnya.
Dalam pengembangan sistem pengawasan pangan tersebut, BRIN tidak bekerja sendiri. Lembaga ini menjalin kolaborasi dengan Badan POM, perguruan tinggi, dan pelaku industri pangan agar teknologi yang dihasilkan dapat diterapkan di lapangan dan tidak berhenti pada tahap penelitian laboratorium.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pengawasan pangan yang terintegrasi, berbasis bukti ilmiah, sekaligus mendukung penyusunan regulasi nasional yang lebih ketat.
Di sisi lain, Laila menegaskan bahwa upaya pencegahan food fraud juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai konsumen.
“Jangan mudah tergoda harga murah. Cek label, pastikan ada izin edar, dan cari sertifikasi halal yang terverifikasi. Ketika masyarakat lebih kritis, pasar akan otomatis membersihkan diri dari praktik curang,” ujar dia.
Melalui berbagai inovasi tersebut, BRIN menargetkan Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang memiliki sistem deteksi pangan yang canggih dan andal, sehingga setiap produk yang dikonsumsi masyarakat dapat dipastikan aman sekaligus sesuai dengan informasi yang tercantum pada kemasannya.
(lam)