LANGIT7.ID, Jakarta - Konsep metaverse digadang-gadang akan menjadi teknologi internet terbaru yang dapat menghubungkan jutaan manusia lewat realitas digital. Indonesia dinilai belum siap merambah teknologi ini dalam waktu cepat.
Namun optimisme ke arah sana terus dibangun. Metaverse menyimpan banyak potensi untuk syiar dan pengembangan ekonomi syariah bila teknolog muslim berhasil membangun iklim realitas digital yang baik.
Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Askar Muhammad mengatakan, mteaverse memungkinkan pengembangan ekonomi syariah. Menurut dia, ekonomi syariah dapat berperan dari sisi kelembagaan dengan mengawasi pasar agar tujuan-tujuan syariah terpenuhi.
Baca Juga: Sambut Metaverse, Perusahaan Indonesia WIR Group Curi Start“Ekonomi syariah berperan sebagai moral compass dalam menentukan kebijakan yang tepat untuk menghadapi situasi tersebut,” ujarnya saat berbincang dengan
Langit7, Rabu (26/1/2022) pagi.
Peneliti Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) ini menjelaskan, secara filosofis, ekonomi syariah adalah kegiatan ekonomi yang mewujudkan maslahat atau kebaikan bagi manusia. Maslahat tercipta ketika tujuan dari syariah terwujud.
Secara sangat sederhana, objektif dari syariah terangkum dalam Kulliyat Al Khamsah pada Maqasid Al-Shari'ah yang mencakup, perlindungan agama, perlindungan akal, perlindungan keturunan, perlindungan jiwa, dan perlindungan harta.
“Setiap aktivitas ekonomi, selama tidak haram, yang mewujudkan kelima hal tersebut dapat dikategorikan ekonomi syariah. Jadi ekonomi syariah tidak hanya terbatas pada perbankan syariah, pasar modal syariah, keuangan syariah, industri halal, atau pun Ziswaf,” katanya.
Baca Juga: Pendiri Drone Emprit: Indonesia Belum Siap Hadapi MetaverseAskar mengatakan, dengan cepatnya perkembangan teknologi, kesejahteraan tenaga kerja bisa terbengkalai. Ke depan, mungkin ada beberapa jenis pekerjaan yang hilang. Di sinilah pentingnya peran ekonomi syariah sebagai kompas moral dalam menentukan kebijakan yang tepat.
Dalam bukunya, Richard Baldwin menyebutkan bahwa di jangka panjang, meskipun ada pekerjaan yang hilang, tetapi ada pekerjaan baru yang akan muncul. Ekonomi syariah memastikan kebijakan pemerintah tetap berpihak pada tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan tersebut di jangka pendek.
“Sehingga ia bisa menyesuaikan dirinya dengan pekerjaan baru yang muncul di jangka panjang,” tuturnya.
Baca Juga: Pasangan India Rencanakan Pernikahan Pertama di Metaverse(zhd)