Nusrat Ghani, Wakil Menteri Inggris yang Dipecat karena Beragama Islam
Muhajirin
Jum'at, 28 Januari 2022 - 15:22 WIB
Nusrat Ghani (foto: independent.co.uk)
Nusrat Ghani (49) harus menelan pil pahit setelah diberhentikan dari jabatan wakil menteri Inggris, hanya karena beragama Islam.
Anggota parlemen dari pemerintahan Konservatif yang dipimpin PM Boris Johnson itu membeberkan pemecatannya saat wawancara dengan surat Kabar Sunday Times. Dia diberhentikan dari posisi wakil menteri perhubungan pada Februari 2020.
Awalnya, dia diberitahu oleh otoritas penegak disiplin di parlemen bahwa statusnya sebagai muslimah dianggap menjadi masalah. Pemberitahuan itu berlanjut pada pemecatan.
"Status menteri wanita Muslimnya membuat rekan kerja merasa tidak nyaman," tulis koran Sunday Times, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (28/1/2022). Selain itu, Ghani juga dianggap tak bisa setia pada partai dengan status keyakinan tersebut.
"Rasanya seperti ditinju di perut. Saya merasa terhina dan tidak berdaya. Hanya sedikit yang bisa saya lakukan tentang identitas saya," kata Ghani.
Namun, Ghani memilih diam karena ada ancaman bakal dikucilkan dari rekan partai serta karir dan reputasinya akan dihancurkan. "Saya tidak akan berpura-pura bahwa ini tidak menggoyahkan kepercayaan saya pada partai," katanya.
Ghani menjabat sebagai wakil menteri perhubungan di kabinet Perdana Menteri (PM) Boris Johnson pada 2018. Ia menjadi menteri muslim wanita pertama yang berbicara di Dewan Rakyat (House of Commons).
Anggota parlemen dari pemerintahan Konservatif yang dipimpin PM Boris Johnson itu membeberkan pemecatannya saat wawancara dengan surat Kabar Sunday Times. Dia diberhentikan dari posisi wakil menteri perhubungan pada Februari 2020.
Awalnya, dia diberitahu oleh otoritas penegak disiplin di parlemen bahwa statusnya sebagai muslimah dianggap menjadi masalah. Pemberitahuan itu berlanjut pada pemecatan.
"Status menteri wanita Muslimnya membuat rekan kerja merasa tidak nyaman," tulis koran Sunday Times, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (28/1/2022). Selain itu, Ghani juga dianggap tak bisa setia pada partai dengan status keyakinan tersebut.
"Rasanya seperti ditinju di perut. Saya merasa terhina dan tidak berdaya. Hanya sedikit yang bisa saya lakukan tentang identitas saya," kata Ghani.
Namun, Ghani memilih diam karena ada ancaman bakal dikucilkan dari rekan partai serta karir dan reputasinya akan dihancurkan. "Saya tidak akan berpura-pura bahwa ini tidak menggoyahkan kepercayaan saya pada partai," katanya.
Ghani menjabat sebagai wakil menteri perhubungan di kabinet Perdana Menteri (PM) Boris Johnson pada 2018. Ia menjadi menteri muslim wanita pertama yang berbicara di Dewan Rakyat (House of Commons).