LANGIT7.ID, Jakarta - Nusrat Ghani (49) harus menelan pil pahit setelah diberhentikan dari jabatan wakil menteri Inggris, hanya karena beragama Islam.
Anggota parlemen dari pemerintahan Konservatif yang dipimpin PM Boris Johnson itu membeberkan pemecatannya saat wawancara dengan surat Kabar
Sunday Times. Dia diberhentikan dari posisi wakil menteri perhubungan pada Februari 2020.
Awalnya, dia diberitahu oleh otoritas penegak disiplin di parlemen bahwa statusnya sebagai muslimah dianggap menjadi masalah. Pemberitahuan itu berlanjut pada pemecatan.
"Status menteri wanita Muslimnya membuat rekan kerja merasa tidak nyaman," tulis koran
Sunday Times, dikutip dari
Anadolu Agency, Jumat (28/1/2022). Selain itu, Ghani juga dianggap tak bisa setia pada partai dengan status keyakinan tersebut.
"Rasanya seperti ditinju di perut. Saya merasa terhina dan tidak berdaya. Hanya sedikit yang bisa saya lakukan tentang identitas saya," kata Ghani.
Namun, Ghani memilih diam karena ada ancaman bakal dikucilkan dari rekan partai serta karir dan reputasinya akan dihancurkan. "Saya tidak akan berpura-pura bahwa ini tidak menggoyahkan kepercayaan saya pada partai," katanya.
Ghani menjabat sebagai wakil menteri perhubungan di kabinet Perdana Menteri (PM) Boris Johnson pada 2018. Ia menjadi menteri muslim wanita pertama yang berbicara di Dewan Rakyat (
House of Commons).
Lalu, siapa sebenarnya Ghani? Ia lahir di Kashmir pada 1972. Namun, Ghani besar di Birmingham Inggris, dari kelompok pekerja, dan menyelesaikan pendidikan di Bordesley Gree Girls' School.
Ghani berkuliah di Universitas Birmingham City dan lulus sebagai sarjana pemerintahan dan politik. Ia lalu melanjutkan Master di Universitas Leeds.
Ia terjun ke dunia politik Inggris setelah memenangkan suara di Wealden, East Sussex, pada Desember 2013. Pada Juli 2015, ia diangkat sebagai anggota Komite Pemilihan Dalam Negeri dan menjabat hingga 2017.
Di tahun 2016, Ghani bekerja dengan Barnardo, badan amal anak tertua di Inggris, untuk melakukan penyelidikan independen terhadap perilaku seksual anak. Pada juli 2017, ia dipromosikan menjadi Sekretaris Swasta Parlemen di Kantor Dalam Negeri.
Ghani terlibat dalam pembuatan laporan tentang urusan dalam negeri, keamanan, kejahatan rasial, kepolisian, dan imigrasi. Ia juga dikenal aktif sebagai pendukung Brexit. Pada 2020, ia aktif menentang diskriminasi China pada Muslim Uighur. Bahkan, ia dijatuhi sanksi oleh China karena tindakan itu.
Sementara itu, desakan investigasi independen kini ditujukan ke PM Johnson. Mengutip
BBC, Wakil PM dan Menteri Kehakiman Dominic Raab mengatakan, hal itu sangat serius, tapi tak akan ada penyelidikan formal kecuali pengaduan resmi.
Dewan Muslim Inggris (MBC) mengatakan, kesaksian Ghani sangat mengejutkan. Mengutip
The Guardian, MBC mendesak Komisi Persamaan dan Hak Asasi Manusia (EHRC) bertindak.
"Dia mengalami ini sebagai seorang wanita muslimah di puncak partai memperkuat sifat yang mengakar. Islamofobia institusional di partai Konservatif telah berlangsung terlalu lama dengan impunitas," kata Sekjen MBC, Zara Mohammed.
(jqf)