Awas Duck Syndrome, Terlihat Bahagia tapi Sebenarnya Tertekan
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 04 Februari 2022 - 13:07 WIB
Induk bebek dan anaknya yang terlihat tenang di permukaan, namun kakinya terus mengayuh. Foto: LANGIT7/iStock
Apa yang terlihat di permukaan belum tentu itu yang terjadi. Hal inilah yang menggambarkan duck syndrome, sebuah situasi dimana Anda terlihat baik-baik saja namun di dalam diri sedang memiliki segudang masalah yang ditutupi.
Istilah duck syndrome pertama kali muncul di Stanford University, Amerika Serikat. Kondisi ini dianalogikan seperti bebek yang sedang berenang. Ketika berenang bagian atas tubuh bebek terlihat sangat tenang tapi kakinya sedang mengayuh dengan cepat untuk bisa tetap bertahan.
Baca juga: Psikolog: Kenalkan Pubertas Sejak Dini pada Anak
Psikolog Rumah Konseling, Muhammad Iqbal mengatakan duck syndrome lebih mengarah kepada stres biasa, seperti kecemasan yang banyak dialami anak-anak muda.
Misalnya overthinking, ketakutan akan masa depan, sulit tidur, ketakutan akan tidak lulus dan sebagainya. Intinya duck syndrome menggambarkan kecemasan-kecemasan yang berkaitan dengan prestasi dan harga diri.
"Hal ini disebabkan oleh banyaknya tekanan atau tuntutan pola asuh orangtua yang perfeksionis sehingga anak-anak ini takut salah, takut melakukan sesuatu dan hilang percaya diri," katanya kepada Langit7, Jumat (4/2/22).
"Rata-rata kebanyakan yang terkena duck syndrome yaitu orang-orang yang berorientasi kepada target akademik, mereka sebenarnya secara ekonomi sudah mapan tetapi mereka membutuhkan eksistensi," tambahnya.
Istilah duck syndrome pertama kali muncul di Stanford University, Amerika Serikat. Kondisi ini dianalogikan seperti bebek yang sedang berenang. Ketika berenang bagian atas tubuh bebek terlihat sangat tenang tapi kakinya sedang mengayuh dengan cepat untuk bisa tetap bertahan.
Baca juga: Psikolog: Kenalkan Pubertas Sejak Dini pada Anak
Psikolog Rumah Konseling, Muhammad Iqbal mengatakan duck syndrome lebih mengarah kepada stres biasa, seperti kecemasan yang banyak dialami anak-anak muda.
Misalnya overthinking, ketakutan akan masa depan, sulit tidur, ketakutan akan tidak lulus dan sebagainya. Intinya duck syndrome menggambarkan kecemasan-kecemasan yang berkaitan dengan prestasi dan harga diri.
"Hal ini disebabkan oleh banyaknya tekanan atau tuntutan pola asuh orangtua yang perfeksionis sehingga anak-anak ini takut salah, takut melakukan sesuatu dan hilang percaya diri," katanya kepada Langit7, Jumat (4/2/22).
"Rata-rata kebanyakan yang terkena duck syndrome yaitu orang-orang yang berorientasi kepada target akademik, mereka sebenarnya secara ekonomi sudah mapan tetapi mereka membutuhkan eksistensi," tambahnya.