Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Awas Duck Syndrome, Terlihat Bahagia tapi Sebenarnya Tertekan

Fifiyanti Abdurahman Jum'at, 04 Februari 2022 - 13:07 WIB
Awas Duck Syndrome, Terlihat Bahagia tapi Sebenarnya Tertekan
Induk bebek dan anaknya yang terlihat tenang di permukaan, namun kakinya terus mengayuh. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Apa yang terlihat di permukaan belum tentu itu yang terjadi. Hal inilah yang menggambarkan duck syndrome, sebuah situasi dimana Anda terlihat baik-baik saja namun di dalam diri sedang memiliki segudang masalah yang ditutupi.

Istilah duck syndrome pertama kali muncul di Stanford University, Amerika Serikat. Kondisi ini dianalogikan seperti bebek yang sedang berenang. Ketika berenang bagian atas tubuh bebek terlihat sangat tenang tapi kakinya sedang mengayuh dengan cepat untuk bisa tetap bertahan.

Baca juga: Psikolog: Kenalkan Pubertas Sejak Dini pada Anak

Psikolog Rumah Konseling, Muhammad Iqbal mengatakan duck syndrome lebih mengarah kepada stres biasa, seperti kecemasan yang banyak dialami anak-anak muda.

Misalnya overthinking, ketakutan akan masa depan, sulit tidur, ketakutan akan tidak lulus dan sebagainya. Intinya duck syndrome menggambarkan kecemasan-kecemasan yang berkaitan dengan prestasi dan harga diri.

"Hal ini disebabkan oleh banyaknya tekanan atau tuntutan pola asuh orangtua yang perfeksionis sehingga anak-anak ini takut salah, takut melakukan sesuatu dan hilang percaya diri," katanya kepada Langit7, Jumat (4/2/22).

"Rata-rata kebanyakan yang terkena duck syndrome yaitu orang-orang yang berorientasi kepada target akademik, mereka sebenarnya secara ekonomi sudah mapan tetapi mereka membutuhkan eksistensi," tambahnya.

Meski duck Syndrome ini bisa juga terjadi dalam hubungan pertemanan, namun lebih banyak terjadi pada pola asuh atau target yang ditetapkan dalam akademik.

"Pokoknya kamu harus ranking, kamu harus juara,"

Tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan kepercayaan mereka terhadap anak. Sehingga anak akan merasa ingin lebih berprestasi demi orang tua. Istilahnya bertahan hidup untuk memuaskan tekanannya. Hal ini jika dibiarkan akan berdampak kepada gangguan cemas bahkan depresi.

"Bukan cuma itu, duck syndrome juga bisa didapat dari peristiwa traumatik seperti pernah trauma kematian, tabrakan dan lainnya," ucap Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana ini.

Maka itu, untuk tidak terkena duck syndrome anak muda harus banyak beraktivitas secara sosial, mulai dengan teman sebaya atau organisasi sosial. Dengan begitu, anak-anak remaja bisa melihat realita di masyarakat yang selama ini mungkin tidak pernah dilakukan.

"Istilahnya, hidup tidak menginjak bumi karena selalu disibukkan dengan memikirkan target dirinya tetapi tidak memikirkan orang lain," tutur CEO Rumah Konseling ini.

Baca juga: Psikolog: Demi Pertumbuhan Anak, Jangan Sering Sindir Mereka

"Mereka harus diubah dengan pendekatan spiritual agama, konseling, pelatihan-pelatihan soft skill dan juga penerimaan edukasi terkait media sosial dan lain-lain," imbuhnya.

Kemudian, Iqbal berpesan kepada orang tua agar tidak selalu memaksakan kehendaknya terhadap anak.

"Untuk orang tua, tidak boleh seperti "Tiger Mom" yang selalu mengontrol anak secara berlebihan. Karena hal ini yang tentu saja bisa membuat seorang anak itu cemas, ketakutan dan anak-anak ini akan tidak kreatif. Mereka akan mengalami rasa tidak percaya diri karena takut berbuat salah," tuturnya.

Iqbal menambahkan, hidup bukan urusan akademik. Tetapi akan butuh untuk bersosialiasi, bergaul, bermain.

Baca juga: Psikolog: Punya Anak Remaja, Orang Tua Harus Siap Jadi Ember

"Akademik bukan segala-galanya ada banyak kecerdasan lain yang harus diasah, misal seni, bahasa, fisik. Jangan sampai mereka pintar akademik tetapi mereka tidak menjaga kesehatan akhirnya bisa berpotensi terkena penyakit, seperti kanker, gagal ginjal dan lain-lain. Jadi harus seimbang, antara dunia akademik dan kesehatan fisik, termasuk emosi dan spiritual," tambahnya.

Tak lupa ia juga berpesan kepada anak muda untuk kembali ke alam dan memotivasi diri dengan menyukuri nikmat pemberian Allah SWT.

"Lakukan refreshing seperti naik gunung, kemping turing dan lain-lain. Itu akan membuat kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang kita miliki saat ini, dengan banyak bersyukur kita akhirnya jadi di menginjak bumi," tutup Iqbal.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)