LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tren Strava begitu viral di media sosial, lantaran banyak orang membagikan rute perjalanan olahraganya yang terekam di aplikasi tersebut. Maps Strava yang paling unik akan mendapat banyak “likes”. Efeknya, muncul jasa joki Strava bagi yang membutuhkan.
Pengguna jasa joki Strava kemungkinan besar memiliki tujuan untuk ikut-ikutan tren. Di mana ia bisa memamerkan “prestasi” telah menyelesaikan satu rute yang terbilang unik melalui media sosial. Hasilnya, muncul pengakuan dari orang lain berupa banyaknya “likes” yang didapat.
Menurut Psikolog Rosana Dewi Yunita, hal ini tentu tidak benar bila dilihat dari sisi kejujuran. “Itu masalah kejujuran, tentu itu kalau bicara langsung soal ini salah ya. Tapi jadi muncul pertanyaan kenapa (pakai joki)? Ini perlu dilihat dulu karena ada rasa tidak percaya diri, ada rasa dia ingin dilibatkan, atau ingin tampak,” ujar Psikolog asosiate LPTUI-Depok ini kepada Langit7.
Ada potensi seseorang khawatir apabila tidak menjadi bagian komunitas tertentu. Jadi dengan berbagai cara akan ia lakukan demi bisa eksis, meskipun dengan cara yang tidak benar.
Baca juga:
Fomo Olahraga Lari Membuat Jasa Joki Strava Viral“Khawatirnya apabila hal tersebut dilakukan orang dewasa dan dinormalisasi akan menjadi ‘excuse’ untuk hal lainnya,” kata Ita.
Penanggung Jawab Schema Psikologi ini menyarankan, daripada menggunakan jasa joki untuk sekadar fomo (fear of missing out), akan lebih baik jika orang tersebut menggali kemampuan dan kelebihan diri yang dimilikinya.
“Perlunya identifikasi punya kelebihan dimana, jadi tidak usah ikut-ikutan orang lain terus. Takut tren selesai kemudian tren apalagi ke depan, jadi eksis-nya seperti dan tidak sesuai aslinya. Ini harus di-cut, meski tidak mudah tapi kalau orang melakuka semacam jalan pintas tentu tidak baik,” imbuhnya.
Lebih lanjut Ita mengungkapkan mungkin ada rasa bersalah bagi pengguna jasa joki ini karena telah melakukan hal tidak jujur, apalagi kalau orang tersebut sebelumnya mendapat pola asuh yang mengajarkan kejujuran.
Beda halnya apabila seseorang yang memang berada di lingkungan dengan pola asuh yang tidak mengutamakan kejujuran. Sebab perilaku yang tidak baik tidak muncul begitu saja, melainkan ada pengaruh faktor pola asuh, lingkungan, dan berbagai hal yang sejak lama terjadi.
Ita mengingatkan agar tidak terbuai dengan pujian orang lain di media sosial, apalagi sampai membuat lupa diri hingga menghalalkan segala cara demi tetap bisa eksis.
(ori)