LANGIT7.ID, Jakarta - Psikolog Disya Arinda mengingatkan para orang tua agar tidak menjadikan sindiran sebagai bagian dari pola asuh. Sindiran kerap terlontar dari orang tua secara tak sadar meski dengan maksud menerapkan kedisiplinan.
Disya memberikan beberapa kalimat sindiran yang kerap ditujukan kepada anak. Misalnya, 'Wah
keren banget pulang tengah
malem.
Gak sekalian tahun depan aja?', '
Tumben putri raja
nyapu pagi-pagi, biasanya jam segini
molor, bangun-bangun tinggal makan."
Sindiran semacam itu bisa berpengaruh bagi kepribadian anak saat dewasa kelak. Sikap kepada orang tua pun demikian. Disya mengatakan, anak usia 9-12 tahun sebenarnya sudah paham dengan sindiran atau sarkasme.
Namun, berbeda dengan anak usia pra-remaja, anak pada usia ini belum sepenuhnya memahami makna dari sindiran. Mereka juga belum mengetahui apa yang perlu dilakukan ketika disindir oleh orang dewasa.
"Pun bentuk sindiran sesama anak-anak juga biasanya simpel. Contoh, 'Pelit
banget sih
gak minjemin pensil.
Tau deh yang pensilnya baru beli.' Nah, kondisinya konkret di depan mata. Beda hal kalau orang dewasa yang menyindir. Mungkin butuh pemikiran yang lebih jauh, maknanya lebih luas dan tersirat," tulis Disya melalui akun Twitter-nya, dikutip Senin (17/1/2022).
Disya menilai, anak yang terbiasa disindir sejak kecil akan tumbuh dengan perasaan ragu dalam melakukan sesuatu, bahkan hal yang positif sekalipun. Anak tidak terbiasa yakin dengan keputusannya, karena maksud dari 'bahasa' orang tua tidak pernah jelas.
Pada beberapa anak, kebiasaan disindir menciptakan rasa bersalah. Ketika dewasa, saat ingin orang lain merasa bersalah terhadap dirinya, ia akan menggunakan sindiran. Kemungkinan lain ialah anak jadi sensitif berlebihan, sehingga mudah tersinggung.
"Kenapa? Karena sejak kecil sering bingung tak berujung. Jadi penilaiannya kadang terlalu subjektif.
Taking things personally. Wujud perilaku: sulit bedakan mana konteks dan mana yang humor, mana yang
hostile," kata Disya.
Hal paling menyedihkan adalah anak menjadi malas berinteraksi dengan orang tua. Tentu sangat disayangkan jika anak menghindar anak hanya karena merasa tidak nyaman atau khawatir akan disindir. Padahal, jika anak dan orang tua
good mood lebih mungkin memiliki
quality time.
Disya lalu memberikan empat tips untuk mengatasi masalah ini, di antaranya:
1. Puji Jika Anak Benar, Beri Arahan Kalau SalahOrang tua harus memberikan pujian jika anak benar, dan memberikan arahan jika melakukan kesalahan. Dua hal ini tidak gampang dilakukan. Orang tua perlu kesabaran dalam mendidik buah hati.
Namun, orang tua juga harus memahami batas umur anak harus dipuji jika melakukan hal baik. Salah satu tujuan pujian sedari kecil adalah habituasi (pembiasaan) perilaku. Kalau sudah terbiasa dan bisa berinisiatif, maka tidak perlu lagi dipuji.
"Kalau anak mengerjakan hal yang baik utk dirinya sendiri artinya anak sudah mandiri, tak perlu sering-sering dipuji seiring kedewasaannya. Kalau anak mengerjakan hal yang baik untuk orang lain dan sifatnya sukarela, ini boleh diapresiasi. Bahkan saat dewasa sesederhana otang tua berkata terima kasih," kata Disya.
2. Sering Bercanda dengan AnakOrang tua harus sering-sering becanda sama anak. Candaan yang bersifat memang lucu dan mengundang tawa bersama, bukan mengejek dan juga bukan menyindir.
"Anak dan orang tua bercandaannya bisa 'nyambung' kalau interaksinya intensif dan sama-sama menyenangkan," ucap Disya.
3. Segera Jelaskan Maksud SindiranKalau sudah terlanjur menyindir, orang tua harus segera menjelaskan ke anak maksud sindiran itu. Orang dewasa diharapkan bisa dengan rendah hati mengakui kealpaan dan meminta maaf lalu klarifikasi.
"Ini juga mengajarkan anak bahwa kita mungkin menyakiti orang lain dengan kata-kata, lalu beranilah minta maaf," tutur Disya.
4. Berusaha Lebih Mindful
Orang tua harus mengusahakan lebih
mindful, terutama ketika membahas kesalahan anak. Anak di usia praremaja itu pemahaman bahasa dan empatinya masih dalam tahap perkembangan.
"Anak masih sulit memahami dari perspektif lain. Jadi anak seringkali memahami itu," kata Disya.
(jqf)