Sekolah Salimah, Bahagiakan Lansia dalam Rangka Birrul Walidain
Fajar adhitya
Senin, 26 Juli 2021 - 08:05 WIB
Ilustrasi sekolah untuk para orang tua. (Foto: Salimah).
Persaudaraan Muslimah meresmikan Sekolah Lansia Salimah (Salsa) pada Sabtu (27/7/2021). Peresmian dilakukan secara simbolik oleh Menteri Sosial, Tri Rismaharini, didampingi Ketua Umum Salimah, Etty Praktiknyowati secara daring.
Lewat keynote speech yang dibacakan Direktur Rehabilitasi Sosial Lansia, Andi Hanindito, Risma mengatakan, persoalan tekait lansia sangat kompleks dan bervariasi. Karena itu, diperlukan solusi bersama dari pemerintah, masyarakat, maupun lembaga sosial.
Salimah yang menyelenggarakan sekolah lansia diharapkan bisa bersinergi dengan Kemensos sehingga dapat melayani lansia dengan maksimal. Saat ini Kemensos telah melaksanakan program asistensi rehabilitasi sosial (atensi) yang memberi 7 layanan untuk lansia dan kelompok rentan seperti anak, penyandang disabilitas, gelandangan, dan tuna sosial.
"Pertama, dukungan pemenuhan hidup layak. Kedua, perawatan sosial dan atau pengasuhan anak. Ketiga, dukungan keluarga. Keempat, terapi fisik, psikososial dan mental spiritual. Kelima, pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan. Keenam, bansos dan asistensi sosial. Ketujuh, dukungan aksesabilitas," kata Andi dikutip salimah.or.id.
Ketua Umum Salimah, Etty Praktiknyowati, menjelaskan bahwa peresmian Salimah merupakan bagian dari birrul walidain, yaitu nasihat abadi untuk berbuat baik kepada orang tua. Salimah memandang masyarakat lansia dengan pandangan terhormat.
"Sebagaimana perhatiannya terhadap generasi muda. Salimah berharap Salsa akan menjadi wadah yang tepat bagi orangtua untuk mendapatkan lingkungan dan suasana yang membuat bahagia, sehat dan mandiri," ujarnya.
Sejauh ini sudah berjalan 35 Salsa dengan 1.500 siswa, dan 242 di antaranya telah diwisuda. Kurikulum yang dijalankan meliputi keagamaan, psikologi, kesehatan, ekonomi dan keterampilan.
Lewat keynote speech yang dibacakan Direktur Rehabilitasi Sosial Lansia, Andi Hanindito, Risma mengatakan, persoalan tekait lansia sangat kompleks dan bervariasi. Karena itu, diperlukan solusi bersama dari pemerintah, masyarakat, maupun lembaga sosial.
Salimah yang menyelenggarakan sekolah lansia diharapkan bisa bersinergi dengan Kemensos sehingga dapat melayani lansia dengan maksimal. Saat ini Kemensos telah melaksanakan program asistensi rehabilitasi sosial (atensi) yang memberi 7 layanan untuk lansia dan kelompok rentan seperti anak, penyandang disabilitas, gelandangan, dan tuna sosial.
"Pertama, dukungan pemenuhan hidup layak. Kedua, perawatan sosial dan atau pengasuhan anak. Ketiga, dukungan keluarga. Keempat, terapi fisik, psikososial dan mental spiritual. Kelima, pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan. Keenam, bansos dan asistensi sosial. Ketujuh, dukungan aksesabilitas," kata Andi dikutip salimah.or.id.
Ketua Umum Salimah, Etty Praktiknyowati, menjelaskan bahwa peresmian Salimah merupakan bagian dari birrul walidain, yaitu nasihat abadi untuk berbuat baik kepada orang tua. Salimah memandang masyarakat lansia dengan pandangan terhormat.
"Sebagaimana perhatiannya terhadap generasi muda. Salimah berharap Salsa akan menjadi wadah yang tepat bagi orangtua untuk mendapatkan lingkungan dan suasana yang membuat bahagia, sehat dan mandiri," ujarnya.
Sejauh ini sudah berjalan 35 Salsa dengan 1.500 siswa, dan 242 di antaranya telah diwisuda. Kurikulum yang dijalankan meliputi keagamaan, psikologi, kesehatan, ekonomi dan keterampilan.