Anies: Warga Isoman Seharusnya Berada di Rumah Sakit
Fajar adhitya
Ahad, 25 Juli 2021 - 23:50 WIB
Relawan Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menggantung buah-buahan di pagar rumah warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di Kampung Pucang Sawit, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (24/7/2021). Aksi solidaritas tersebut untuk membantu kebutuhan warga
Kasus fatalitas atau kematian pada warga yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) terkait infeksi Covid-19 terjadi karena keterbatasan ruang perawatan rumah sakit (RS) di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, seharusnya mereka berada di rumah sakit. Namun, selama Juni-Juli, ruang perawatan rumah sakit di Jakarta telah mencapai batas maksimum. Banyak warga yang seharusnya mendapatkan pelayanan medis tetapi tidak dapat tempat di rumah sakit.
"Itulah yang kemudian salah satu sebab kontribusi terhadap kasus-kasus mereka yang isolasi tidak bisa terselamatkan, karena seharusnya mereka berada di rumah sakit," katanya saat webinar gerakan vaksinasi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Ahad (25/7/2021).
Anies menjelaskan bahwa dalam setiap 1.000 kasus, sekitar 4-5 persen membutuhkan perawatan intensif di ruang unit perawatan intensif (ICU) karena keadaannya berat. Ketika kasus aktif (orang yang menjalani perawatan atau isolasi) mencapai 100 ribu orang seperti beberapa waktu ke belakang, artinya ada sekitar 4.000 hingga 5.000 orang memerlukan ruang ICU, tetapi hanya tersedia sekitar 1.500 kapasitas dan bahkan sampai untuk masuk instalasi gawat darurat (IGD) harus antre.
"Dari situ terlihat bahwa ada 'gap'. Jadi, ini berbeda dengan isolasi mandiri bergejala ringan, sedang, ini adalah mereka-mereka yang seharusnya masuk dalam perawatan, tetapi tempat kita kemarin tidak cukup," ucap Anies.
Saat ini, keterisian di RS sudah mulai longgar sehingga ada penurunan tren pasien Covid-19 yang dirawat. Beberapa rumah sakit melaporkan, IGD sudah tidak penuh lagi.
"Namun, kami minta semua data-data yang ada dari penularan, daerahnya, jumlah yang dirawat, ketersediaan RS, hingga data fatalitas untuk dilihat dan dicermati supaya kita bisa melindungi semuanya," ucap Anies.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, seharusnya mereka berada di rumah sakit. Namun, selama Juni-Juli, ruang perawatan rumah sakit di Jakarta telah mencapai batas maksimum. Banyak warga yang seharusnya mendapatkan pelayanan medis tetapi tidak dapat tempat di rumah sakit.
"Itulah yang kemudian salah satu sebab kontribusi terhadap kasus-kasus mereka yang isolasi tidak bisa terselamatkan, karena seharusnya mereka berada di rumah sakit," katanya saat webinar gerakan vaksinasi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Ahad (25/7/2021).
Anies menjelaskan bahwa dalam setiap 1.000 kasus, sekitar 4-5 persen membutuhkan perawatan intensif di ruang unit perawatan intensif (ICU) karena keadaannya berat. Ketika kasus aktif (orang yang menjalani perawatan atau isolasi) mencapai 100 ribu orang seperti beberapa waktu ke belakang, artinya ada sekitar 4.000 hingga 5.000 orang memerlukan ruang ICU, tetapi hanya tersedia sekitar 1.500 kapasitas dan bahkan sampai untuk masuk instalasi gawat darurat (IGD) harus antre.
"Dari situ terlihat bahwa ada 'gap'. Jadi, ini berbeda dengan isolasi mandiri bergejala ringan, sedang, ini adalah mereka-mereka yang seharusnya masuk dalam perawatan, tetapi tempat kita kemarin tidak cukup," ucap Anies.
Saat ini, keterisian di RS sudah mulai longgar sehingga ada penurunan tren pasien Covid-19 yang dirawat. Beberapa rumah sakit melaporkan, IGD sudah tidak penuh lagi.
"Namun, kami minta semua data-data yang ada dari penularan, daerahnya, jumlah yang dirawat, ketersediaan RS, hingga data fatalitas untuk dilihat dan dicermati supaya kita bisa melindungi semuanya," ucap Anies.