Mencontoh Umar bin Abdul Aziz dalam Mendidik Anak
Muhajirin
Sabtu, 12 Februari 2022 - 17:41 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sebagai pendekar Aswaja, KH Muhammad Idrus Ramli, mencontohkan cara mendidik anak ala Umar bin Abdul Aziz. Ia merupakan salah satu khalifah Dinasti Umayyah yang berkuasa pada 717 hingga 720 M.
Meski hanya memimpin selama kurang dari 3 tahun, Umar bin Abdul Aziz punya gaya kepemimpinan, keteladanan, prestasi, dan jasa yang kerap disebut sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai sosok shaleh dan bertakwa kepada Allah Ta'ala. Setelah Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M) wafat, ia mewasiatkan agar digantikan oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar tak bisa menolak wasiat itu. Jika biasanya orang bergembira dan mengadakan syukuran kala mendapat jabatan, apalagi sekelas khalifah, sosok satu ini berbeda. Kata pertama yang terlontar dari mulut dari Umar adalah "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."
Umar menganggap jabatan khalifah sebagai musibah. Ada tanggung jawab besar yang diemban. Ia buktikan hal tersebut kala menjalankan roda pemerintahan. Dalam segala hal, ia sangat berhati-hati.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, jika ada tamu yang berkunjung ke rumah beliau pada malam hari, Umar akan bertanya terlebih dahulu maksud tamu tersebut. Jika bertamu untuk urusan negara, maka ia menyalakan lampu dari fasilitas negara. Jika sekadar silaturahim, maka yang dinyalakan adalah lampu pribadi.
Bahkan, sering pada malam hari rumah Umar tidak ada penerang karena tidak memiliki minyak. "Bayangkan, seorang khalifah yang berkuasa dari Maroko sampai Asia Tengah tidak memiliki minyak. itu saking berhati-hatinya," kata Kiai Idrus saat menyampaikan kajian di Pesantren Al Mustaqiem Beji Depok pada Jumat (11/2/2022).
Meski hanya memimpin selama kurang dari 3 tahun, Umar bin Abdul Aziz punya gaya kepemimpinan, keteladanan, prestasi, dan jasa yang kerap disebut sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai sosok shaleh dan bertakwa kepada Allah Ta'ala. Setelah Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M) wafat, ia mewasiatkan agar digantikan oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar tak bisa menolak wasiat itu. Jika biasanya orang bergembira dan mengadakan syukuran kala mendapat jabatan, apalagi sekelas khalifah, sosok satu ini berbeda. Kata pertama yang terlontar dari mulut dari Umar adalah "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."
Umar menganggap jabatan khalifah sebagai musibah. Ada tanggung jawab besar yang diemban. Ia buktikan hal tersebut kala menjalankan roda pemerintahan. Dalam segala hal, ia sangat berhati-hati.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, jika ada tamu yang berkunjung ke rumah beliau pada malam hari, Umar akan bertanya terlebih dahulu maksud tamu tersebut. Jika bertamu untuk urusan negara, maka ia menyalakan lampu dari fasilitas negara. Jika sekadar silaturahim, maka yang dinyalakan adalah lampu pribadi.
Bahkan, sering pada malam hari rumah Umar tidak ada penerang karena tidak memiliki minyak. "Bayangkan, seorang khalifah yang berkuasa dari Maroko sampai Asia Tengah tidak memiliki minyak. itu saking berhati-hatinya," kata Kiai Idrus saat menyampaikan kajian di Pesantren Al Mustaqiem Beji Depok pada Jumat (11/2/2022).