Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mencontoh Umar bin Abdul Aziz dalam Mendidik Anak

Muhajirin Sabtu, 12 Februari 2022 - 17:41 WIB
Mencontoh Umar bin Abdul Aziz dalam Mendidik Anak
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sebagai pendekar Aswaja, KH Muhammad Idrus Ramli, mencontohkan cara mendidik anak ala Umar bin Abdul Aziz. Ia merupakan salah satu khalifah Dinasti Umayyah yang berkuasa pada 717 hingga 720 M.

Meski hanya memimpin selama kurang dari 3 tahun, Umar bin Abdul Aziz punya gaya kepemimpinan, keteladanan, prestasi, dan jasa yang kerap disebut sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai sosok shaleh dan bertakwa kepada Allah Ta'ala. Setelah Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M) wafat, ia mewasiatkan agar digantikan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Umar tak bisa menolak wasiat itu. Jika biasanya orang bergembira dan mengadakan syukuran kala mendapat jabatan, apalagi sekelas khalifah, sosok satu ini berbeda. Kata pertama yang terlontar dari mulut dari Umar adalah "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."

Umar menganggap jabatan khalifah sebagai musibah. Ada tanggung jawab besar yang diemban. Ia buktikan hal tersebut kala menjalankan roda pemerintahan. Dalam segala hal, ia sangat berhati-hati.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, jika ada tamu yang berkunjung ke rumah beliau pada malam hari, Umar akan bertanya terlebih dahulu maksud tamu tersebut. Jika bertamu untuk urusan negara, maka ia menyalakan lampu dari fasilitas negara. Jika sekadar silaturahim, maka yang dinyalakan adalah lampu pribadi.

Bahkan, sering pada malam hari rumah Umar tidak ada penerang karena tidak memiliki minyak. "Bayangkan, seorang khalifah yang berkuasa dari Maroko sampai Asia Tengah tidak memiliki minyak. itu saking berhati-hatinya," kata Kiai Idrus saat menyampaikan kajian di Pesantren Al Mustaqiem Beji Depok pada Jumat (11/2/2022).

Umar juga pernah meminta semua perhiasan dari sang istri. Istri Umar sempat mempertanyakan keputusan itu, karena perhiasan tersebut merupakan hadiah dari sang ayah, Sulaiman ibn Abdul Malik.

Jawaban Umar sederhana. Perhiasan tersebut merupakan pemberian dari khalifah. Ia khawatir itu diambil dari kas negara, sehingga harus dikembalikan ke negara pula. Pilihan istri Umar hanya dua, bertahan dengan menyerahkan perhiasan ke negara, atau membawa perhiasan itu tapi bercerai dengan Umar.

Saat Umar jatuh sakit, semua anak-anaknya yang berjumlah 12 orang berkumpul. Umar hanya mengatakan kepada mereka, jika berkumpul karena menunggu warisan, lebih baik pulang saja. Sebab, Umar tidak memiliki harta.

"Kami berkunjung karena engkau sakit," begitu kata anak-anak Umar. Umar lalu mengaku tak mampu mewariskan apapun. Namun, ia tak khawatir jika semua anak-anaknya bertakwa kepada Allah Ta'ala, karena Sang Maha Segala-galanya pasti mencukupi kehidupan mereka.

"Tapi, jika kalian bermaksiat setelah aku wafat, maka aku tidak mendapat beban, sebab bisa saja kalian bermaksiat karena warisanku." tutur Umar kepada anak-anaknya. Perkataan Umar terbukti di kemudian hari, ketika 12 anak beliau diberi kecukupan dalam hal ekonomi.

Suatu ketika, negara Islam tengah mempersiapkan pasukan untuk berperang. Namun kas negara kurang untuk membeli 1000 kuda perang berikut biaya setiap prajuritnya. Sehingga, pejabat negara datang ke salah satu anak Umar untuk meminta bantuan.

Tanpa pikir panjang, anak Umar meminta pejabat tersebut mencari 1000 kuda. Semua biaya pembelian ditanggungnya. Tak hanya itu, biaya 1000 prajurit penunggang kuda pun turut ditanggung.

Berbeda dengan khalifah Hisyan bin Abdul Malik. Meski dari kalangan Bani Umayyah, ia bertolak belakang dengan Umar. Ia menjadi pemimpin zalim dan terkenal gemar bermaksiat. Hingga saat wafat, ia mewariskan 3 kwintal emas ke setiap anaknya yang berjumlah 12 orang.

Namun nasib berbeda dengan anak-anak Umar bin Abdul Aziz yang dididik untuk menjadi orang bertakwa. Anak-anak Hisyan justru jatuh miskin dan menjadi kuli bangunan di pasar-pasar.

"Warisan paling penting dari orang tua untuk anak adalah pendidikan ilmu agama. Mendidik anak agar menjadi anak shalih dan shalihah. Itu lebih penting, daripada mewariskan pekerjaan tapi anak tidak bisa shalat," kata Kiai Idrus.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)