Detik-detik Berpulangnya Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan
Muhajirin
Senin, 26 Juli 2021 - 14:03 WIB
Hadhratussyekh KH Hasyim Asyari (foto: nu.or.id)
25 Juli merupakan salah satu tanggal penting bagi warga Nahdliyyin. Dalam hitungan kalender masehi, 25 Juli merupakan hari wafatnya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Banyak sekali ibroh atau pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sang kiai, terlebih di tahun jelang wafatnya beliau. Sebab Hadhratussyekh berjuang hingga titik darah penghabisan hingga dipanggil oleh Allah Maha Kuasa.
Tahun-tahun terakhir Hadhratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) sebelum menghembus nafas terakhir, beliau difitanah oleh Jepang (Nippon). Jepang melancarkan tuduhan dan fitnah pemberontakan agar dapat memenjarakan Kiai Hasyim Asy'ari. Jepang melancarkan teror dengan datang langsung ke Pesantren Tebuireng.
Dikutip dari buku Berangkat dari Pesantren (2013) karya KH Saifuddin Zuhri, kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asy’ari dengan tetap menghafal Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhari sebagai wiridan selama dipenjara oleh Jepang diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim.
Kala itu KH Hasyim Asy'ari tidak ingin santrinya menjadi korban kekejaman Nippon. Ia merelakan diri untuk dibawa serdadu Jepang dan dipenjara. Di penjara, KH Hasyim Asy’ari mengalami siksa pedih dari tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya.
Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, beliau tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Shahih Bukhori. Dia juga menolak dengan tegas hormat menghadap matahari sebagai sikap tunduk dan patuh kepada Kaisar Jepang, Teno Heika.
Dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan Gus Wahid sendiri.
“Bagaimana kabar Hadhratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari setelah keluar dari tahanan Nippon?” tanya Kiai Saifuddin Zuhri mengawali obrolan dengan Kiai Wahid Hasyim.
Tahun-tahun terakhir Hadhratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) sebelum menghembus nafas terakhir, beliau difitanah oleh Jepang (Nippon). Jepang melancarkan tuduhan dan fitnah pemberontakan agar dapat memenjarakan Kiai Hasyim Asy'ari. Jepang melancarkan teror dengan datang langsung ke Pesantren Tebuireng.
Dikutip dari buku Berangkat dari Pesantren (2013) karya KH Saifuddin Zuhri, kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asy’ari dengan tetap menghafal Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhari sebagai wiridan selama dipenjara oleh Jepang diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim.
Kala itu KH Hasyim Asy'ari tidak ingin santrinya menjadi korban kekejaman Nippon. Ia merelakan diri untuk dibawa serdadu Jepang dan dipenjara. Di penjara, KH Hasyim Asy’ari mengalami siksa pedih dari tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya.
Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, beliau tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Shahih Bukhori. Dia juga menolak dengan tegas hormat menghadap matahari sebagai sikap tunduk dan patuh kepada Kaisar Jepang, Teno Heika.
Dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan Gus Wahid sendiri.
“Bagaimana kabar Hadhratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari setelah keluar dari tahanan Nippon?” tanya Kiai Saifuddin Zuhri mengawali obrolan dengan Kiai Wahid Hasyim.