Investasi Ilegal Banyak Makan Korban karena Literasi Keuangan Rendah
Mahmuda attar hussein
Senin, 21 Februari 2022 - 06:35 WIB
Ilustrasi investasi halal dan aman. (Foto: iStock).
Judi online berkedok investasi ilegal diketahui memakan banyak korban. Hal ini karena literasi keuangan dan digital masyarakat yang masih rendah.
Banyak yang tergiur dengan investasi dengan keuntungan besar dalam waktu singkat seperti binary option. Padahal mereka sebenarnya hanya menebak-nebak naik turunnya harga sebuah aset pada jangka waktu tertentu.
Keuntungan yang akan didapatkan memang menggiurkan, yakni mencapai 60-80 persen. Namun, hal yang lepas dari kewaspadaan ialah risiko dan potensi kerugian di dalamnya.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menyebutkan pengguna dapat kehilangan seluruh modalnya apabila salah prediksi.
"Ini berbeda dengan mekanisme trading pada umumnya," kata Nailul Huda saat dikonfirmasi, Ahad (20/2/2022).
Menurutnya, literasi keuangan dan digital masyarakat yang masih rendah menjadi satu penyebab banyaknya korban yang terjerumus dalam investasi ilegal ini.
"Masyarakat ingin mendapatkan keuntungan secara kilat tapi tidak memiliki literasi digital dan keuangan yang kuat," ujarnya.
Banyak yang tergiur dengan investasi dengan keuntungan besar dalam waktu singkat seperti binary option. Padahal mereka sebenarnya hanya menebak-nebak naik turunnya harga sebuah aset pada jangka waktu tertentu.
Keuntungan yang akan didapatkan memang menggiurkan, yakni mencapai 60-80 persen. Namun, hal yang lepas dari kewaspadaan ialah risiko dan potensi kerugian di dalamnya.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, menyebutkan pengguna dapat kehilangan seluruh modalnya apabila salah prediksi.
"Ini berbeda dengan mekanisme trading pada umumnya," kata Nailul Huda saat dikonfirmasi, Ahad (20/2/2022).
Menurutnya, literasi keuangan dan digital masyarakat yang masih rendah menjadi satu penyebab banyaknya korban yang terjerumus dalam investasi ilegal ini.
"Masyarakat ingin mendapatkan keuntungan secara kilat tapi tidak memiliki literasi digital dan keuangan yang kuat," ujarnya.