Rupiah Melemah Terdampak Eskalasi Geopolitik Rusia Ukraina
Mahmuda attar hussein
Selasa, 22 Februari 2022 - 14:05 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah. (Foto: Istimewa).
Nilai tukar atau kurs rupiah melemah pada Selasa (22/2/2022) pagi seiring eskalasi kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina baru-baru ini.
Rupiah bergerak melemah 24 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.352 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.328 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah hari ini dengan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Baca Juga:Platform 99% Usahaku Hadirkan Fitur Pemasokku, Hubungkan UMKM dengan Mitra Grosir
Dini hari tadi Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit yang memerintahkan pasukan Rusia untuk masuk ke dua wilayah sengketa di Ukraina Timur dengan alasan untuk menjaga perdamaian.
Rusia akan mengakui dua wilayah sengketa tersebut yaitu Luhansk dan Donetsk sebagai wilayah yang independen dari Ukraina.
"Sikap Rusia ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar keuangan bahwa perang besar akan terjadi dan mendorong pelaku pasar keluar dari aset berisiko," ujar Ariston.
Rupiah bergerak melemah 24 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.352 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.328 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah hari ini dengan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Baca Juga:Platform 99% Usahaku Hadirkan Fitur Pemasokku, Hubungkan UMKM dengan Mitra Grosir
Dini hari tadi Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit yang memerintahkan pasukan Rusia untuk masuk ke dua wilayah sengketa di Ukraina Timur dengan alasan untuk menjaga perdamaian.
Rusia akan mengakui dua wilayah sengketa tersebut yaitu Luhansk dan Donetsk sebagai wilayah yang independen dari Ukraina.
"Sikap Rusia ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar keuangan bahwa perang besar akan terjadi dan mendorong pelaku pasar keluar dari aset berisiko," ujar Ariston.